08 November, 2008

Angin Puting Beliung Sulit Diprediksi

Share
JAKARTA–Potensi munculnya angin puting beliung di wilayah Jakarta pada musim pancaroba saat ini akan sangat tinggi. Sayangnya, angin puting beliung tersebut sulit diprediksi waktu dan lokasi kemunculannya. Hal itu disebabkan karena angin puting beliung tergolong kejadian cuaca yang sangat bersifat lokal.

"Artinya, angin puting beliung tidak terjadi pada daerah dalam wilayah luas," kata Kabid Informasi Meteorologi dan Geofisika BMG, Ahmad Zakir, di Balai Kota, akhir pekan lalu. Dia mencontohkan, angin puting beliung tidak bisa disebutkan melanda Jakarta Pusat, namun pasti hanya melanda satu wilayah kecil saja, seperti Kecamatan Senen. Bahkan, dapat melanda wilayah yang lebih kecil dari kecamatan.

"Waktu terjadinya puting beliung juga sangat singkat," kata Zakir sambil membetulkan posisi kacamatanya. Hal itu menyebabkan angin puting beliung menjadi sangat sulit untuk diprediksi. Ketika akan meninjau lokasi, lanjutnya, angin puting beliungnya sudah hilang. Prediksi BMG tentang lokasi dan waktu kejadian puting beliung pun sering meleset.

Meski demikian, BMG bisa memprediksi rentang waktu yang biasanya sering diwarnai kemunculan angin puting beliung. "Puting beliung itu terjadi di masa pancaroba atau peralihan musim," kata Zakir memaparkan. Masa peralihan musim itu ditandai dengan adanya hujan di pagi dan sore hari, namun tidak terjadi setiap hari.

Zakir memberi catatan, Jakarta memiliki dua zona musim, yaitu Zona Utara dan Zona Selatan. Zona Utara terdiri dari Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur bagian utara, dan Jakarta Selatan bagian utara. Sedangkan, Zona Selatan terdiri dari Jakarta Selatan bagian selatan dan Jakarta Timur bagian selatan. "Zona selatan sudah masuk musim hujan, sedangkan zona utara masih pancaroba," kata Zakir.

Musim pancaroba dikatakan berakhir jika sudah sering terjadi hujan ketika tengah malam, sore, pagi, dan siang. "Hal itu menunjukkan musim pancaroba berakhir dan menandakan masuknya musim hujan," kata Zakir. Curah hujan dikatakan tinggi jika mencapai 400 milimeter per bulan, sedang berkisar antara 200-400 milimeter, dan rendah 100-200 milimeter. Saat ini, belum ada curah hujan di atas 400 milimeter.

Zakir menambahkan, angin puting beliung merupakan angin berkecaepatan tinggi dengan arah berputar-putar. "Biasanya kecepatan angin puting beliung mencapai lebih dari 40 kilometer per jam," katanya. Kecepatan angin sebesar itu dapat bersifat merusak. Pasalnya, kecepatan angin 22 kilometer per jam saja bisa menumbangkan ranting pohon. Sedangkan, kecepatan angin normal sebesar 18 kilometer per jam.

Ketika ditanya dampak angin puting beliung bagi warga, Zakir menjelaskan, angin puting beluing hanya bersifat merusak pada wilayah yang terdapat rumah-rumah semi permanen. "Untuk wilayah Jakarta, saya kira sebagian besar rumah bersifat permanen," katanya. Sehingga, tingkat kerusakan akibat angin puting beliung di Jakarta tidak begitu besar.

Zakir justru mengkhawatirkan banyaknya pohon tumbang akibat angin puting beliung tersebut. "Di Jakarta kan banyak pohon-pohon yang berusia tua," katanya. Pohon tersebut bisa tumbang oleh angin puting beliung dengan kecepatan di atas 22 kilometer per jam. Namun, lanjut Zakir, pohon tidak perlu ditebang, hanya perlu dipangkas saja agar tidak terlalu berat menahan angin.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Ery Basworo, mengatakan, di antara lima juta batang pohon yang ada di Jakarta, sekitar 500-600 pohon di antaranya rawan tumbang. "Petugas Dinas Pertamanan di lima wilayah terus mengintensifkan patroli untuk melakukan pemangkasan," kata Ery. Bahkan, patroli tersebut dilakukan setiap hari.

Ketika ditanya teknis pemangkasan pohon, Ery menjelaskan, Dinas Pertamanan DKI Jakarta melakukan pola satu tiga dalam melakukan pemangkasan pohon. "Artinya, jika ada tiga pohon yang rawan tumbang, hanya satu yang dilakukan pemangkasan," katanya Ery menjelaskan. Pohon yang dipangkas itu dipilih berdasarkan tingkat kerawanan pohon. n ikh

0 comments: