
Gunung Merapi di Jogjakarta baru saja meletus dan merenggut nyawa puluhan orang warga desa setempat. Letusan gunung itu memberi hikmah yang cukup mendalam tentang bencana alam. Gunung Merapi mengajarkan kita betapa bencana itu bisa datang kapan saja, tanpa mengenal waktu dan tempat.
Manusia sama sekali tidak bisa menghentikan datangnya bencana. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini hanya bisa memprediksi kapan bencana itu datang. Prediksi itu pun tidak seratus persen akurat, namun tetap bermanfaat sebagai langkah antisipasi.
Oleh karenanya, ilmu pengetahuan untuk memprediksi datangnya bencana alam itu perlu terus digali. Hal itu tentu agar bisa mengurangi jatuhnya korban jiwa. Dengan adanya prediksi kejadian bencana, warga bisa terlebih dahulu dievakuasi dan ditempatkan di lokasi aman dari dampak bencana.
Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari letusan Gunung Merapi. Salah satunya pelajaran dalam memprediksi datangnya letusan gunung. Rumpun ilmu teknik dan geologi telah memiliki metode tersendiri dalam memprediksi letusan gedung.
Namun, Tuhan sebenarnya memberi cara lain dalam menunjukkan kebesaraannya. Makhluk-makhluk Tuhan ternyata bisa mengajarkan manusia untuk memprediksi bencana. Hewan-hewan tertentu bisa merasakan gejalan letusan gunung merapi sebelum gunung itu benar-benar meletus.
Beberapa hari sebelum Gunung Merapi meletus, sejumlah media massa melansir laporan adanya hewan yang menunjukan perilaku tak lazim. Kantor Berita Antara melaporkan sekumpulan burung Elang Jawa (bido) terbang meninggalkan kawasan hutan setempat ketika terjadi peningkatan aktivitas Merapi.
"Kami menandai, apa yang terlihat itu sebagai tanda kemungkinan udara di atas semakin panas sehingga bido itu turun," kata Sukisno (36), Ketua RT 02 RW 07 Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer dari barat puncak Gunung Merapi, di Magelang, Senin petang, seperti dikutip Antara.
Laporan itu menambahkan, sekumpulan bido yang berjumlah sekitar 20 ekor terlihat warga desa terakhir dari puncak Gunung Merapi. Kawanan burung ini terbang dari arah tenggara ke timur laut dari puncak Merapi. Warga setempat melihat sekumpulan burung itu terbang pukul 16.00 WIB melintasi dusun setempat yang penduduknya berjumlah 227 jiwa.
Burung itu selama ini tinggal di kawasan Hutan Deles yang letaknya dekat dengan Dusun Gemer. Warga mengatakan, saat Merapi akan erupsi yang terakhir pada pertengahan 2006 tidak melihat kejadian seperti itu. Merapi memang sempat mengalami aktivitas vulkanik pada 2006 silam.
Perilaku tak lazim dari Elang Jawa itu tentu bisa menjadi petunjuk akan terjadi letusan Gunung Merapi. Elang Jawa ternyata memiliki banyak kelebihan yang tak dimiliki manusia dalam merasakan gejala-gejala alam. Hal itu bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi manusia untuk dikaji dan diteliti secara komprehensif.

Elang Jawa
Ensiklopedi Wikipedia menjelaskan, Elang Jawa bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepalanya berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm).
Elang Jawa memiliki tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih, mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya.
Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.
Sebagian besar Elang Jawa ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa, termasuk di Gunung Merapi yang berada di selatan Jawa. Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi.
Kemunculan Elang Jawa yang terbang rendah meninggalkan hutan bisa disebut perilaku tak lazim karana pada umumnya Elang Jawa memiliki sarang sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya.
Prediksi Gempa
Fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada hewan sebelum terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori. Sebagian besar hewan memiliki kapasitas pendengaran (auditory capacities) yang melebihi manusia. Selain itu, hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran suara ultra (ultrasound) sebagai getaran mikroseismis dari patahan batuan.
Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan perilaku abnormal pada hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap variasi medan magnet bumi yang terjadi di dekat pusat gempa. Perubahan medan magnet bumi dapat mempengaruhi proses migrasi burung-burung dan menganggu kemampuan navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat keluar sebelum terjadinya gempa, hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik dapat merubah pemancar gelombang syaraf dalam otak hewan.
Jane Hallander, peneliti unggas yang tinggal di San Fransisco menemukan hubungan antara gempa bumi dan burung Kakak Tua. Jane sendiri merupakan korban dalam gempa besar yang melanda Loma Prieta, California pada 1989. Jane memiliki burung Kakak Tua Abu-abu Afrika bernama Jing yang berperilaku aneh ketika akan terjadi gempa di California.
Perilaku aneh sang burung mulai terlihat delapan jam sebelum gempa. Padahal, Jane dan burungnya tinggal sejauh 450 mil dari pusat gempa. Jane mencatat, perilaku aneh yang diperlihatkan oleh Jing itu di antaranya mata tampak terbelalak melihat tanah dan berputar-putar jungkir balik di dalam sarang. Jane percaya perilaku itu diturunkan dari nenek moyang sebagai pertanda untuk meninggalkan sarang.
Dalam kondisi normal, Kakak Tua peliharaan bisa mudah dipegang dengan tangan tanpa berontak atau keinginan melepaskan diri. Namun, sifat sebaliknya akan muncul jika akan ada gempa dalam waktu 8-9 jam berikutnya. Kakak Tua akan berontak dan menolak masuk sangkar. Burung di alam bebas akan terbang sejauh mungkin ketika bahaya di balik permukaan tanah.
Kakak Tua yang berada dalam sangkar biasanya merontokkan bulu di bagian ekor ketika mengetahui akan terjadi gempa. Hal itu terjadi karena ketika burung berada di dalam sangkar dan tidak bisa terbang jauh ketika akan terjadi gempa, maka akan ada produksi adrenalin berlebih hingga membuat rontok bulu. Kerontokan bulu juga terjadi ketika burung sudah berada dalam mulut predator (Hallander, 2007).
Dalam kasus gunung-gunung berapi, hewan-hewan tertentu bisa merasakan jenis-jenis gas tertentu yang keluar ketika akan terjadi letusan. Prof Stephen A Nelson dari Tulane University menyatakan, komposisi gas-gas yang keluar dari gunung berapi sering berubah sebelum terjadinya erupsi. Pada umumnya, perubahan komposisi itu terjadi pada peningkatan proporsi hydrogen chloride (HCl) dan sulfur dioxide (SO2).
Selain itu, gunung berapi yang akan meletus ditandai perubahan arus panas. Ketika magma mendekati permukaan atau pada saat suhu air tanah meningkan, jumlah arus panas akan meningkat. Uniknya, manusia tidak selalu merasakan perubahan suhu yang tergolong kecil. Perubahan suhu yang kecil ini baru bisa terdeteksi dengan menggunakan infrared remote sensing. Perubahan medan magnet bumi juga terjadi sebelum letusan.
Perubahan kondisi alam sebelum adanya aktivitas gempa atau vulkanik tidak hanya dirasakan oleh burung, namun juga oleh lebah sekalipun. Lebah terlihat meninggalkan sarangnya dalam kondisi panik beberapa menit sebelum gempa dan mereka tidak akan kembali ke sarangnya sampai 15 menit setelah gempa berhenti (Miller, 1996).
Para peneliti barat kini belum memiliki concern terhadap prediksi gempa atau letusan gunung melalui pengamatan perilaku hewan. Indonesia bisa menjadi pelopor. Wajar karena Indonesia merupakan rumah bagi ribuan, bahkan jutaan spesies hewan, bahkan banyak hewan endemis yang tidak ditemui di daerah lain. (images courtesy National Geography and Wikipedia) ***
0 comments:
Post a Comment