Meramal Masa Depan APEC

Kondisi perekonomian global yang dinamis menuntut APEC memperkuat kerja sama ekonomi anggotanya.

Indonesia Inc

Presiden harus menjadi Chief of Business Development (CBD).

Warisan Utang

Utang memang sudah ada sejak negara ini berdiri. Utang ini terus menyertai sejarah perjalanan Indonesia.

26 February, 2010

Waiting Yudhoyono's Official Respond to 'Bank Century' Case

After long series of investigation held by the parliament over the 'Bank Century' case, President Susilo Bambang Yudhoyono announced on Thursday, Feb 25, that he will soon give an official respond to the case. This could be the first Yudhoyono's respond since the case occured on the late 2009. In my own word, Yudhoyono finally 'speak his mind' over this case.

"I will speak on the 'Bank Century' crisis. I plan to address the Indonesian people directly," said Yudhoyono on Plenary Cabinet Session Speech at Presidential Office, Thursday, Feb 25. All the cabinet members are there and hear what the President just explained. This will be a good story for journalist because Yudhoyono somehow never say a word about the 'Bank Century' cases.

Many political analist see the Yudhoyono's involvement on 'Bank Century' cases. Let me simplify, government decided to bail 'Bank Century' out from a sistemic failed bank. It is a reason why the government action for 'Bank Century' then called bail out. Government using 6,7 trillion IDR to bail the bank out.

The cases start to pop-up when analist told that the bail out action was improper. Government bail the bank for wrong reasons. Then, some of the parliamentary members argue that the government action to bail the bank out was a robbery. The money was used as a funding the Yudhoyono's presidential campaign on 2009 election, said unconfirmed source.

Yudhoyono surely want to make it clear. He said, as head of state, he was the most responsible person for everything that happened in the country. So, I think Yudhoyono need a moment to settle the issue, not to shake it. Official respond from Yudhoyono could be the best way to clear his name to the public.

Yudhoyono said he didn't want to be reactive about issues developing every day around the 'Bank Century' case. He didn't want to be dragged into political controversies. "I can't react to these issues every day. If I do, I will be drawn into endless controversy," he said. Well, Mr President, we wait for your speech then.

07 February, 2010

Mengenal FeedLIVE dan WinFeed


Para pelaku usaha peternakan membutuhkan campuran bahan pakan yang efesien untuk menyiasati tingginya biaya dalam membeli bahan pakan. Untuk memperoleh campuran bahan pakan yang paling efisien, diperlukan metode formulasi pakan yang paling akurat. Ternak memerlukan nutrisi (karbohidrat, lemak, protein, dan lain-lain) untuk menunjang hidupnya dan meningkatkan produk yang dihasilkan, seperti daging, susu, maupun telur. Kebutuhan nutrisi itu dipenuhi dari berbagai jenis bahan pakan (jagung, dedak padi, bungkil kedelai, dan lain-lain) yang dicampurkan menjadi satu dalam komposisi yang tepat, campuran itu disebut dengan ransum.

Ransum harus diramu dari bahan-bahan pakan agar dapat menyuplai kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan kebutuhan dan dengan biaya serendah mungkin. Dalam konteks ini, diperlukan metode penghitungan yang paling akurat agar diperoleh formulasi bahan pakan yang tepat. Sejumlah ahli makanan ternak telah memanfaatkan kehadiran teknologi informasi dengan menciptakan software-software yang mampu membuat formulasi bahan pakan paling akurat. FeedLIVE dan WinFeed merupakan software-software formulasi pakan yang paling populer penggunaannya di sektor peternakan.

FeedLIVE 1.5

Versi terbaru dari FeedLIVE yang tercatat dalam situs webnya adalah FeedLIVE 1.5. Software ini bukan dibuat oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang, namun dibuat oleh Thailand. Hal ini menunjukkan betapa pembangunan peternakan di Indonesia tertinggal jauh oleh negara tetangga. FeedLIVE 1.5 diperuntukkan bagi dokter hewan, konsultan peternakan, nutrisionis ternak, maupun para pelaku usaha peternakan. Aplikasi software ini sangat cocok dengan Windows 95, 98, NT, dan XP.



Keluaran (output) dari FeedLIVE 1.5 berupa formulasi bahan-bahan pakan (dalam kilogram, pon, atau ton) yang akan dicampurkan menjadi campuran bahan pakan tunggal yang disebut dengan ransum. Formulasi yang dihasilkan oleh software ini adalah formulasi dengan biaya terendah (least-cost) karena faktor harga bahan pakan turut menjadi alat analisis. Metode progam linear (linear programming) menjadi dasar bagi setiap penghitungan yang diolah oleh FeedLIVE 1.5.

Secara garis besar, langkah-langkah dalam menggunakan FeedLIVE 1.5 sangat sederhana. Setelah memilih pilihan ”formulasi pakan” pada menu utama, FeedLIVE 1.5 akan menampilkan daftar kebutuhan nutrisi dari formula yang dipilih oleh pengguna (user). Kebutuhan nutrisi ini akan berbeda untuk setiap ternak, bahkan seekor ternak yang sama pun akan berbeda kebutuhan nutrisinya, tergantung pada umur, berat badan, dan tujuan produksi. Jika ditekan klik kanan (right click) pada salah satu dari kebutuhan-kebutuhan nutrisi ini, akan muncul menu tambahan yang meminta pengguna untuk mengubah, menghapus, atau menambah kebutuhan nutrisi.

Pengguna dapat memasukkan jenis bahan-bahan pakan yang akan digunakan dalam campuran bahan pakan. Jenis bahan pakan tersebut harus lengkap dengan kandungan nutrisi yang dimiliki. Data ini penting agar FeedLIVE 1.5 mampu menghitung jumlah pakan yang dicampurkan agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Pengguna harus mengikuti tahap-tahap yang diminta oleh FeedLIVE 1.5. Jika semua data telah diinput, maka langkah selanjutnya adalah menekan tombol Formulate di pop-up menu atau dengan menekan F9 pada keyboard.

Keluaran dari hasil analisis FeedLIVE 1.5 dapat disimak dengan lengkap dalam preview screen yang muncul setelah menekan tombol F9. Preview screen terdiri atas dua tabel yang berisi formulasi dari bahan-bahan pakan (dalam kilogram, pon, atau ton) yang akan dicampurkan dan kandungan nutrisi dalam campuran bahan-bahan pakan tersebut. FeedLIVE 1.5 dapat diaplikasikan untuk semua jenis ternak karena software ini memiliki basis data lengkap mengenai kebutuhan nutrisi setiap jenis ternak. FeedLIVE 1.5 juga mampu membuat formulasi pakan untuk campuran pakan dengan kapasitas (batch size) maksimal hingga 10 ton. Artinya, FeedLIVE 1.5 dapat diaplikasikan pada peternakan skala kecil hingga industri.

WinFeed 2.8

Dalam bisnis penjualan software formulasi pakan ternak, WinFeed 2.8 merupakan kompetitor utama FeedLIVE 1.5. Keduanya memiliki banyak keunggulan dalam melakukan formulasi pakan ternak. Salah satu perbedaannya adalah metode yang digunakan untuk menghitung formulasi pakan. Selain terdapat metode program linear, WinFeed 2.8 dilengkapi pula dengan metode stokastik untuk menghitung formulasi pakan paling murah berdasarkan probabilitas. Penggunaannya kompatibel dengan semua versi Windows dan Unix/Linux.



WinFeed 2.8 memiliki kemampuan melakukan formulasi dari bahan-bahan pakan yang jumlahnya tidak terbatas. Dengan kata lain, WinFeed 2.8 dapat menerima masukan (input) jenis bahan pakan dalam jumlah yang banyak untuk diformulasi dalam bentuk pakan tunggal (ransum). Jika data kandungan nutrisi bahan pakan yang akan diigunakan untuk membuat ransum tidak terdapat dalam WinFeed 2.8, maka pengguna dapat memasukkan data yang dimilikinya ke dalam basis data. Setiap basis data tersebut disimpan dalam file yang terpisah.

Keunggulan lain yang dimiliki WinFeed 2.8 adalah integrasi operasional dengan Microsoft Excel. Pengguna dapat memindahkan dengan mudah data yang ada Microsoft Excel ke WinFeed 2.8 dan sebaliknya. WinFeed 2.8 sangat cocok bagi pengguna yang menginginkan analisis ekonomi dalam formulasi pakan yang dihasilkan. Untuk melengkapi formulasi pakan hasil penghitungan, WinFeed 2.8 menyertakan pula harga marginal (marginal price), harga bayangan (shadow price), dan alat analisis ekonomi lainnya dari formulasi pakan yang dihasilkan. Oleh karena itu, pengguna WinFeed 2.8 sebagian besar adalah para pelaku usaha peternakan.

WinFeed 2.8 mampu membuat formulasi bahan pakan untuk campuran pakan dengan berat maksimal (batch size) 1.000 ton, jauh melebihi kemampuan FeedLIVE 1.5. Selain itu, WinFeed 2.8 dilengkapi dengan kemampuan untuk menghitung rata-rata dan simpangan baku dari metode stokastik. Keluaran (output) hasil perhitungan WinFeed 2.8 hampir sama dengan FeedLIVE 1.5, yaitu berupa jumlah (dalam kilogram, pon, atau ton) dari bahan-bahan pakan yang perlu dicampurkan untuk membentuk campuran bahan pakan tunggal (ransum). Namun, WinFeed 2.8 dapat menampilkan keluaran dalam diagram batang (bar chart) dan lingkaran (pie chart).

Formulasi bahan pakan menggunakan software hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan formulasi terbaik dalam memperoleh campuran bahan pakan tunggal (ransum). Kualitas ransum hasil formulasi bahan pakan tetap harus memenuhi standar kualitas makanan yang baik. Artinya, bahan-bahan pakan penyusun ransum haruslah aman bagi ternak, mudah diperoleh, dan biayanya murah. Melalui langkah ini diharapkan produktivitas di Indonesia dapat meningkat secara signifikan.

10 December, 2009

Jemaah Haji di Ruang Psikiatri




Ruangan di sudut lantai basement Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH), Makkah, tampak berbeda dibanding ruang perawatan lain. Pintu masuk menuju ruangan itu menggunakan terali besi. Di atas pintu itu terdapat papan tipis bertuliskan 'Ruang Psikiatri'.

Orang sembarangan tak bisa masuk. Pintu masuk ruangan psikiatri ini lebih sering terkunci. Hanya dokter, perawat, dan keluarga pasien saja yang bisa masuk. Namun, malam itu, Jumat (20/11), Kepala Bagian Psikiatri, dr Amienuddin, mengizinkan beberapa orang untuk masuk melihat kondisi beberapa pasien.

Sebut saja Ahmad, jamaah haji asal Maluku Utara, dia sudah tiga hari berada di Ruang Psikiatri BPIH. Penampilan dia tidak seperti jemaah haji lain yang selalu berpeci atau bersorban. Lelaki yang usianya sudah berkepala enam ini menggunakan kaos berkerah dan berkacamata hitam.

Dia sesekali berbicara menggunakan bahasa daerahnya. "Ketika datang ke sini, ngomong-nya sudah tidak nyambung," kata Amien. Ahmad ditemani oleh istrinya dan saudara perempuannya. Di saat jemaah lain berlomba memperbanyak shalat dan tawaf di Masjidil Haram, Ahmad harus berada di Ruang Psikiatri.

Melongok lebih jauh ke dalam, Ruangan Psikiatri ini memiliki ruangan-ruangan kecil lain. Amien membuka satu ruangan, namun pintu itu sulit dibuka, seperti ada yang mengganjal. "Jangan duduk di situ ya, coba pindah ke tempat tidur," kata Amien kepada pasien perempuan yang duduk di belakang pintu.

Pemandangan sedikit menyedihkan ada di ruangan lainnya. Dua orang pasien pria dewasa terbaring di lantai. Kemudian, tangan kanannya terikat pada ranjang yang terbuat dari besi. "Kalau tidak diikat suka mengamuk dan menendang-nendang," kata Amien.

Jumlah jemaah haji yang dirawat di Ruang Psikiatri ini berjumlah 15 orang. "Semuanya memang sudah ada gejala sejak dari Tanah Air," ujar Amien. Bahkan, kata dia, sudah ada jemaah yang mendapat perawatan ketika berada di Indonesia sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Saat ini, tim dokter dan perawat di Bagian Psikiatri BPIH ini terus memberi pengobatan dan perawatan bagi para pasien untuk waktu yang belum ditentukan. Padahal, pelaksanaan puncak haji berupa wukuf di Arafah tinggal hitungan hari lagi. Hingga Jumat (20/11), sudah ada 150 jemaah haji Indonesia yang disafariwukufkan

Total seluruh pasien yang ada di BPIH ini 86 pasien. "Sebagian besar pasien berusia lebih dari 60 tahun," kata staf dokter Bidang Pelayanan Medis BPIH, dr Anita Rosari. Penyakit yang paling banyak diderita pasien adalah penyakit jantung dan saluran pernafasan.

"Ada pula jemaah haji yang kelelahan," kata Anita. Dia menyarankan, jemaah haji harus banyak minum dan mengonsumsi buah-buahan sebagai asupan vitamin. Selain itu, jemah haji juga disarankan menjaga stamina selama di Tanah Suci.

BPIH kini mulai menempati gedung baru yang memiliki empat lantai di pinggiran Makkah. Tempat tersebut layaknya rumah sakit. Di dalamnya bertugas 13 orang dokter dan 46 perawat. BPIH sudah beroperasi aktif sejak kira-kira satu bulan lalu dan akan berakhir pada awal Januari 2010 mendatang.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama, Slamet Riyanto, mengatakan, secara keseluruhan ada 151 jemaah haji Indonesia yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi. "Sebagian besar menderita penyakit bawaan Indonesia," kata Slamet.

Di samping itu, satu jemaah atas nama Minasih binti Warya (68) menjadi korban kecelakaan lalu lintas, sehingga mengalami patah tulang dan gegar otak. Lalu, Iyet Suryanti binti Pakih (33) melahirkan bayi cesar. Keduanya dirawat di RS King Fadh Madinah.

21 October, 2009

Gempa dan Bung Hatta


Ruangan berukuran 16 meter persegi itu nyaris roboh. Lapisan temboknya sudah terkelupas, hanya terlihat susunan batu bata merah berusia tua. Keempat dinding tembok yang mengelilingi ruangan itu tidak lagi tegak, seakan tidak lagi mampu menopang atap.

Di bagian atas hanya terlihat genteng yang disangga kayu-kayu yang nyaris patah. Hembusan angin pun bisa membuat genteng-genteng itu ambruk. Meski tembok hampir roboh, namun papan tulis masih terpasang. Di lantai masih tersusun meja dan kursi dari kayu, tapi sudah tertutup debu tebal.

Ya, ruangan itu adalah ruang kelas. Tepatnya ruang kelas 9A SMP Negeri 1 Padang Jl Jend Soedirman, Kota Padang. Ruangan berarsitektur Belanda ini bukan sembarang ruang kelas. Hampir satu abad lalu, Bapak Proklamator, Mohammad Hatta, duduk di salah satu kursi kelas tersebut sebagai salah satu siswanya. Dimulai dari ruangan kecil itulah, Hatta terus bersekolah hingga ke Negeri Belanda.

Ruangan kelas Bung Hatta hancur digoyang gempa 7,6 Skala Richter pada Rabu (30/9) petang. Tak hanya ruangan kelas sang Bapak Koperasi itu saja, namun hampir seluruh kelas di SMP Negeri 1 Padang ini rusak dan tidak bisa digunakan lagi sebagai tempat belajar. Namun, pemerintah setempat tetap mewajibkan kegiatan belajar mengajar harus dimulai pada Senin (5/10).

Pagi itu, tepat pukul 07.30 WIB, sesuai jadwal yang ditetapkan pemerintah, siswa SMP Negeri 1 Padang berkumpul di sekolahnya. Seolah tidak ingin memalukan nama besar Bung Hatta, hampir semua siswa menunjukkan semangat belajar meski hati masih sedih dan trauma akibat gempa. Mengenakan seragam putih biru, satu per satu siswa menyalami guru-guru dan kepala sekolah.

Inilah kali pertama mereka bersua setelah gempa melanda Sumatera Barat. Beberapa siswa dan guru tampak meneteskan air mata. "Hari ini rencananya kami akan berkumpul dengan para siswa untuk menjelaskan kondisi sekolah, sekaligus memberikan bimbingan konseling dan agama bagi para siswa agar tidak trauma," kata Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Padang, Ahmad Nurben, kepada Republika, Senin (5/10) pagi.

Menurut Nurben, sebelas dari 21 ruang kelas di sekolahnya tidak bisa digunakan. Menurut dia, bangunan SMP Negeri 1 Padang merupakan bangunan cagar budaya yang tergolong dilarang untuk dipugar. Namun, bagian bangunan lain merupakan gedung baru. Ruang kelas yang rusak berada di gedung tua yang sudah berusia ratusan tahun.

"Sudah ada petugas dari Dinas Pekerjaan Umum yang meninjau, tapi tidak menjelaskan apakah kelas-kelas ini bisa dipakai," ujar Nurben sambil menunjuk ruang kelas yang rusak. Berdasarkan kondisi fisik, hanya sebelas ruang yang bisa digunakan. Pihak sekolah, kata dia, harus meyakinkan para siswa untuk berani masuk ke dalam kelas agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan.

Dalam kondisi normal, jam belajar di SMP Negeri 1 Padang ini dimulai pada pukul 07.00 hingga 16.00 WIB. "Dengan kondisi ruang kelas yang terbatas, kami rencananya membagi jam belajar menjadi dua bagian, yakni O7.00-12.30 WIB dan 13.30-18.00 WIB. Di sekolah rintisan bertaraf internasional ini terdapat 118 siswa, hampir 80 persen hadir di hari pertama sekolah pascagempa.

"Kami ingin ada ahli konstruksi datang ke mari untuk memastikan bahwa bangunan ini aman, karena itulah yang bisa meyakinkan siswa," kata Nurben. Dia juga mengetuk hati para alumni SMP Negeri 1 Padang untuk memberikan kontribusi. Maklum, sekolah ini merupakan penghasil cendikiawan dari Padang, Irwan Prayitno dan Azwar Anas. Menurut Nurben, bangunan sekolah harus dipertahankan karena merupakan bagian dari sejarah bangsa.

Salah seorang anak Bung Hatta yang kini menjadi menteri, Meutia Hatta, sempat dikabarkan akan mengunjungi sekolah ini sebelum gempa melanda. Namun, rencana itu tak terdengar lagi. Satu siswa SMP Negeri 1 Padang dinyatakan tewas akibat gempa ketika berada di gedung Lembaga Bimbingan Belajar Gama, sedangkan satu guru juga meninggal ketika memberikan les di Lembaga Bahasa Asing LIA.

Safwan, orang tua siswa SMP Negeri 1 Padang kelas 7A bernama, Permatayesa Ulgania, mengatakan, dia sengaja mengantar anaknya ke sekolah karena tidak yakin akan berlangsung kegiatan belajar mengajar. "Saya khawatir jika tetap belajar, bangunan hampir roboh," kata Safwan. Dia pun memutuskan untuk menunggu anak keduanya itu hingga pulang. Di Kota Padang terdapat 75 SMP, 37 di antaranya berstatus negeri. Hampir seluruh bangunan sekolah terkena dampak gempa.

Begitu pula kondisi bangunan SMA di Kota Padang. Bahkan, SMA PGRI 1 Padang memutuskan untuk meniadakan kegiatan belajar mengajar dengan alasan keselamatan. Lagipula, hanya 30 orang siswa yang bersekolah pada Senin (5/10). Sedangkan, 570 siswa sisanya tidak hadir. "Hari ini kami hanya apel saja, menjelaskan kondisi sekolah kepada siswa," kata guru SMA PGRI 1 Padang, Rusli Thalib.

Tidak jauh dari SMA PGRI 1 Padang, terdapat bangunan SMA Negeri 1 Padang juga sebagian besar kelasnya hancur. Namun, pihak sekolah bertekad untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. SMA Negeri 1 Padang merupakan salah satu sekolah yang terkena dampak gempa terparah. Dari 24 ruang kelas, hanya empat ruang kelas yang bisa dipakai.

"Sesuai instruksi pemerintah, hari ini (Senin, 5/10) siswa harus mulai belajar," kata Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Padang, Jufril Siri, usai memberi pengarahan kepada seluruh siswanya. Sekolah ini memiliki 775 siswa yang harus tetap belajar. Menurut Jufril, pihaknya membutuhkan enam tenda untuk menggantikan kelas yang rusak.

Namun, tenda yang tersedia di SMA Negeri 1 Padang hanya satu, yakni bantuan dari Unicef. "Belajar itu penting karena merupakan salah satu terapi untuk menghilangkan trauma siswa," kata Jufril. SMA Negeri 1 Padang juga merupakan almamater sejumlah pejabat, di antaranya Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi dan Dirut PT Semen Padang Endang Irzang.

Salah seorang siswa SMA Negeri 1 Padang, Yogie Prakoso, mengaku tetap ingin belajar dalam kondisi apapun. "Ingin tetap belajar. Biar di dalam tenda tapi tetap belajar," kata Yogie. Dia mengaku sedih dengan gempa yang melanda tempat tinggalnya, namun hal itu tidak membuat Yogie surut semangatnya untuk belajar. Di SMA Negeri 1 Padang, satu siswa meninggal tertimpa reruntuhan di rumahnya dan satu staf tata usaha bernasib serupa.

Di Kota Pariaman, siswa sekolah juga belum bisa melakukan kegiatan belajar. Siswa SMP Negeri 1 Pariaman sudah datang ke sekolahnya sejak pagi, namun niat belajar terpaksa pupus karena kondisi sekolah benar-benar hancur. Mereka terpaksa kembali ke rumah masing-masing, padahal mereka telah berseragam lengkap dan membawa alat tulis. Pihak sekolah belum menerima tenda sebagai lokasi tempat belajar sementara.

Sekolah-sekolah di Ranah Minang ini boleh saja hancur, namun terbukti bahwa orang Minang memiliki semangat belajar yang tinggi. Wajar jika banyak pemimpin, cendikiawan, hingga penyair yang lahir di tanah ini, sebut saja Buya Hamka dan M Hatta. Guru dan siswa sekolah berharap bantuan segera datang, sekolah diperbaiki, dan kegiatan belajar pun bisa dimulai. Semoga. n ikh

27 August, 2009

Indonesia's Election: A Brief Comparison

As a journalist who write a lot about election in Indonesia, I'm not really interest in observing elections in other contries until my associate describe about election in Afghanistan, a country in the middle of nowhere which I don't have a clue to locate it on the map, maybe somewhere around Pakistan or Kazakhstan.

War and conflict are two things that cross in my mind when I heard about Afghanistan. Amazingly, according to my associate who observed the election directly in the area, this ex-Soviet country run a well-managed elections. My curiousity come to a start. I begin to dig informations about it, then I'm hunger for more.

I'm not satisfied with books I've read about Afghanistan election. So, I'm ended up in Wikipedia. This free-encyclopedia nakedly describe about Afghanistan election. Many things pounding in my head. Unconsciously, I made a comparison with the election in Indonesia, including basic principles, techniques, methodes, etc.

I'm new in reporting election. Started a first step in journalistic activities at Indonesia's General Elections Commission in January 2009. It was not easy at the first week, but many journalist friends are kind and settled things up. I move along, day by day. Then I learned so many things about Indonesian election, something that far with my educational background, animal science.

Long-story shorted. A comparison between Afghanistan dan Indonesian election showed which one more perfect than the other. I'm arrived in a conclusion that we need to learn harder as democratic country. A lot of countries held a better elections than ours, including Afghanistan. The description below will show you why we've to learn how to run election to Afghanistan.

Forty-four candidates registered for the Afghanistan's presidential election, with the Independent Election Commmission of Afghanistan (IEC) announcing its official preliminary list of registered candidates on May 17, 2009. Three candidates withdrew from the race before the election took place, having thrown their support behind one of the top two contenders.

Security concerns prevented Afghan's presidential candidates from campaigning in most of the provinces, and candidates running for provincial councils were under constant threat wherever they went. 12 out of Afghanistan's 34 provinces remained classified as "high risk" by the Afghan Ministry of Interior casting into doubt the ability of over one-third of the country to participate in the elections.

It showed how rush the conflict-atmosphere during election. But, in my perspective, Afghan peoples somehow able to managed conflict in order to prevent harsh effects in the election. In the other words, conflict only happened in the surface of the local politic environment. No records about cheating or manipulating election result. If there was, maybe its not really significant.

While in Indonesia, a-so called-democratic election ruined by catasthropic vote-manipulating. There was no bloody conflict during legislative and presidential election around the islands. It means, the surface was clean, but in the inside there was a dirty agenda which Indonesian election observers couldn't reach. The main actors also remain untouchable.

Indonesia's Constitutional Court mentioned that General Elections Commissions seems unprofessional in doing their tasks. As a matter of fact, the Court ordered the Commission to held vote-recount in several districts as a result of miscounting and lack of documents that contain vote recapitulation summaries.

Constitutional Court ex-judge, Jimly Ashiddieqy, told me on a private conversation, 2009 election is the worst election in Indonesia's history. Even the first election in 1955 is more better than now. But, Jimly still optimist that 2009 election is the last election of the transition era. And the next elections will be far better.

Well, let me simplify, Indonesia need to learn how to be honest in run an election. Politicians must consider the election as a fair game. Election not only about the result, but also the process in it. Afghan peoples have tried the best even when they can't. So why haven't we?

18 December, 2008

Tidak ada Preman, Kucing pun Jadi

Dalam beberapa pekan terakhir, mobilitas preman-preman yang ada di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia mulai terbatas. Mereka menjadi sasaran penangkapan polisi dan petugas tramtib di masing-masing kota. Petugas terus menyusuri setiap tempat untuk mengamankan para penyandang penyakit masyarakat itu.

Berbeda dengan wilayah lain, Pemprov DKI Jakarta kini mengemban tugas tambahan untuk melakukan razia serupa terhadap anjing dan kucing. Razia pun akan digelar di setiap sudut kota untuk menangkapi dua binatang itu. Petugas dari Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan dibantu oleh petugas Dinas Tramtib Linmas sudah siap terjun ke lapangan.

Seperti halnya razia preman, razia kucing dan anjing ini juga dilakukan untuk melindungi masyarakat dari penyakit. Bukan penyakit masyarakat (pekat), melainkan penyakit rabies. "Razia itu dilakukan untuk mencegah penularan rabies kepada manusia," kata Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan DKI Jakarta, Edy Setiarto, belum lama ini.

Pria bergelar dokter hewan itu menambahkan, keberadaan kucing dan anjing liar yang 'beroperasi' di setiap sudut kota sangat berbahaya. "Saya perkirakan ada 200.000 kucing dan anjing yang hidup secara liar," katanya. Dari jumlah tersebut, lanjutnya, dikhawatirkan ada yang menderita rabies dan menularkannya kepada manusia.

Edy memiliki alasan cukup kuat untuk melakukan razia kucing dan anjing ini. "Rabies bisa menyebabkan kematian pada manusia," katanya. Bahkan, kata Edy, proses kematian itu akan berjalan pelan-pelan, sehingga manusia akan sangat menderita. Penularan rabies bisa dicegah dengan pemberantasan hewan penular rabies.

Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan menetapkan rabies sebagai penyakit yang perlu mendapat perhatian di samping flu burung, antraks, dan leptospirosis. "Selama beberapa tahun terakhir ini, belum ada catatan mengenai jumlah warga Jakarta yang tertular rabies," kata Edy. Kondisi itu harus dipertahankan dengan melakukan razia terhadap kucing dan anjing.

"Kami akan mulai dengan razia di gedung-gedung milik Pemprov," kata Edy. Di balik kemegahan dan tingginya gedung Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, ternyata masih dihantui oleh peredaran kucing dan anjing liar. Mereka berpotensi untuk menyebarkan penyakit rabies kepada para Abdi Bangsa yang sehari-hari bekerja di gedung itu.

Berdasarkan pantauan Republlika, kompleks Gedung Balai Kota memang sering dihiasi oleh kucing-kucing yang berlalulalang. Mereka berjalan-jalan dengan damai meski berada di antara puluhan manusia. Ironisnya, para pegawai tidak menyadari keberadaan kucing-kucing itu, bahkan mungkin tidak tahu akan bahaya rabies yang dibawa hewan tersebut.

Di balik wajah manisnya, kucing berpotensi membawa penyakit rabies. Penyakit tersebut tergolong penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia (zoonosis). "Hewan menderita rabies cenderung memiliki keinginan untuk menggigit," kata Edy. Manusia yang tergigit akan menunjukkan gejala takut melihat cahaya, menggigil, demam tinggi, dan akhirnya meninggal.

"Rencananya, dalam beberapa bulan ke depan akan dilakukan razia di gedung-gedung Pemprov," kata Edy. Razia itu, lanjut Edy, akan diawasi oleh lembaga internasional untuk memastikan hak-hak hewan yang dimiliki kucing dan anjing tidak dilanggar. Lembaga itu akan mengawasi petugas dari lapangan hingga tempat penampungan.

Kepala Dinas Tramtib Linmas DKI Jakarta, Haryanto Bajuri, mengaku siap jika personelnya dibutuhkan untuk membantu petugas Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan dalam melakukan razia hewan berpotensi rabies. "Kita akan bantu seperti tahun-tahun sebelumnya," kata Haryanto. Satu kompi personel Tramtib Linmas siap turun ke lapangan.

Kini, mereka akan menghadapi tugas baru setelah merazia preman. Meski sasarannya kucing dan anjing, personel Tramtib Linmas tetap perlu berhati-hati dan memiliki kewaspadaan. Pasalnya, jika mereka tergigit oleh kucing dan anjing penderita rabies, maka mereka akan ikut tertular. "Tapi, pada intinya petugas kita siap," kata Haryanto mantap.

"Tidak semua kucing yang terkena razia itu menderita rabies," kata Edy melanjutkan. Petugas akan memilah kucing yang menderita rabies, kucing perlu mendapat pengobatan, dan kucing sehat. Kucing dan anjing akan dibawa ke tempat penampungan di Ragunan, Jakarta Selatan. Kucing yang perlu mendapat perawatan akan menjalani 'rawat inap' di tempat itu.

Uniknya, kucing yang sehat atau yang sudah menjalani perawatan akan diserahkan kepada masyarakat. "Masyarakat bisa mengadopsi kucing dan anjing itu," ujar Edy. Dia tidak memungkiri jika di antara kucing dan anjing yang terkena razia itu ada yang 'berpenampilan' bagus dan diminati masyarakat. Teknis adopsi itu, lanjut Edy, bisa diketahui dengan menghubungi tempat penampungan di Ragunan.

"Adopsi dilakukan agar kucing dan anjing yang terkena razia tidak kembali hidup liar," kata Edy. Jika ada masyarakat yang mengadopsi, hewan-hewan itu bisa dirawat dan menerima vaksin rabies secara teratur. Sehingga, Pemprov pun akan terbantu untuk mengurangi jumlah kucing dan anjing liar yang jumlahnya mencapai 200.000 itu. Siapa berminat? n ikh

Mengail Listrik dari Lautan Sampah

Bermula dari sebuah kawasan sejuk yang dikelilingi pegunungan di wilayah Kerajaan Inggris. Di tempat itu terdapat area bernama Camden, sebuah kota otonom yang masuk wilayah London. Pada pertengahan Mei 2004, pemerintah kota Camden melakukan perjanjian kerja sama dengan dua perusahaan pengolahan energi.

Kerja sama tersebut bertujuan untuk mewujudkan mimpi yang ketika itu tampaknya sulit menjadi kenyataan. Listrik yang telah dikenal manusia sejak 120 tahun lalu mulai memasuki babak baru di Camden. Kota yang dipimpin seorang konselor bernama Nurul Islam ini tidak lagi menggunakan listrik yang berasal dari turbin, dinamo, atau baling-baling yang digerakkan oleh angin.

Sebanyak 2.500 keluarga di Camden mulai menikmati listrik yang bersumber dari sampah. Bagi penduduk di belahan dunia lain, sampah mungkin menjadi benda yang paling menjijikan. Hal itu tidak berlaku bagi penduduk Camden. Listrik yang digunakan di tempat-tempat publik di kota itu juga bersumber dari energi yang terbarukan.

Empat tahun kemudian, beberapa kota di Inggris mengikuti fenomena yang terjadi di Camden. Warga kota Devon mulai mengumpulkan sampah rumah tangga untuk diubah menjadi listrik. Sebanyak 12.000 keluarga yang ada di kota itu diperkirakan menghasilkan satu juta kilo sampah per tahun. Pemerintah setempat berhasil mengubah sampah menjadi energi listrik.

Dari dua kota kecil di Inggris itulah muncul istilah listrik hijau (green electricity). Tanpa menunggu waktu lama, istilah itu hinggap di telinga para pejabat Pemprov DKI Jakarta. Listrik hijau menjadi harapan baru bagi penyelesaian masalah sampah yang melanda Ibu Kota. Selama ini, sampah dianggap sebagai biang keladi masalah perkotaan yang melanda kota-kota besar di Indonesia.

"Paradigma tentang sampah harus diubah," kata Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, di Balai Kota, Jumat (31/10) lalu. Dia menginginkan, sampah yang selama ini dianggap sebagai limbah kotor harus mulai dipandang sebagai sumber energi yang bermanfaat. Selain dapat menghasilkan energi, pengolahan sampah juga bermanfaat bagi lingkungan.

Niat sang gubernur nampaknya tidak main-main. Pada awal 2008, dia menugaskan jajarannya untuk mengundang perusahaan-perusahaan yang mampu mengolah sampah menjadi energi. Perusahaan tersebut harus merupakan perusahaan dalam negeri yang berkonsorsium dengan perusahaan asing, sehingga teknologi pengolahan sampah di luar negeri bisa diadopsi di Ibu Kota.

Langkah yang diambil Pemprov DKI Jakarta itu sebenarnya masih kalah cepat oleh Pemkot Denpasar, Bali. Sejak akhir 2005 lalu, Instalasi Pengelolaan Sampah Terpadu (IPST) di kawasan Suwung, Denpasar dibangun menjadi lokasi pengolahan sampah. Proyek bernilai 20 juta dolar AS itu diharapkan mampu memasok 9,6 Megawatt (MW) dari 800 ton sampah per hari pada tahun 2009-2010.

Jakarta tidak ingin kalah oleh Camden dan Devon. Lelang pengelolaan sampah pun dibuka. Pemenang lelang akan mengelola sampah Jakarta yang berada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi. Selama ini, TPA Bantargebang selalu menjadi biang masalah antara Pemprov DKI Jakarta, Pemkot Bekasi, warga di sekitar TPA, dan kalangan LSM.

Setelah membuka lelang, Pemprov DKI Jakarta mengundang lima perusahaan pengolahan sampah untuk melakukan paparan. "Nilai kontraknya Rp 800 miliar dengan lama 15 tahun," kata Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Eko Bharuna Subroto, di Balai Kota, Jumat (31/10). Dari lima perusahaan yang melakukan paparan, lanjutnya, kami memilih tiga perusahaan.

Ketiga perusahaan yang dipilih itu adalah PT Godang Tua Jaya, PT Total Strategic Investment, dan PT Patriot Bangkit Bekasi. PT Godang Tua Jaya bekerja sama dengan tiga perusahaan asing, yaitu Navigate Organic Energy, Syndicatun Carbon Capital, dan Organic International Ltd. PT Total Strategic Investment bekerja sama dengan Ramky International dari India. Sedangkan, PT Patriot Bangkit Bekasi menggandeng Sembawang Corp dari Singapura.

Tim lelang memaparkan profil ketiga perusahaan itu dihadapan gubernur yang akan langsung menentukan pemenang lelang. PT Godang Tua Jaya sudah disebut-sebut sebagai pemenang lelang karena memiliki kualifikasi terbaik. Dia menggandeng perusahaan yang juga melakukan proyek pengolahan sampah di Denpasar, yaitu Navigate Organic Energy asal Inggris.

Eko melanjutkan, pengolahan sampah menjadi energi sudah menjadi sebuah kebutuhan. TPA Bantargebang sudah tidak bisa lagi menampung sampah asal Jakarta. "Dalam satu hari, Jakarta menghasilkan 6.000 ton sampah," ujar Eko. Namun, lanjutnya, sampah yang tertampung TPA Bantargebang hanya 5.00 ton saja, sisanya masih berceceran di jalan.

Eko optimis pengerjaan proyek pengelahan sampah di TPA Bantargebang bisa segera dimulai bulan depan. "Desember 2008 atau paling lambat Januari 2009 bisa dilakukan pembuatan tiang pancang pembangunan instalasi pengolahan limbah di Bantargebang," katanya sambil tersenyum. Jika sudah beroperasi, instalasi itu bisa mengolah 4.000 ton sampah per hari menjadi listrik sebesar 35 MW.

"Pemprov DKI Jakarta akan membayar Rp 103 ribu untuk setiap ton sampah yang masuk ke TPA Bantargebang," kata Eko. Biaya itu dinamakan tipping fee, yaitu biaya pengolahan sampah menjadi energi yang dibayarkan pada perusahaan pemenang lelang nanti. Sebelum sampah diolah oleh perusahaan, Pemprov DKI Jakarta membayar tipping fee kepada Pemkot Bekasi sebesar Rp 53 ribu per ton.

Fenomena yang terjadi di Camden dan Devon pun sudah berada di depan mata. Namun, Eko belum belum bisa memastikan listrik yang nantinya dihasilkan dari TPA Bantargebang itu bisa langsung dinikmati masyarakat umum. "Kita akan salurkan kepada industri yang ada di Bekasi terlebih dahulu," ujar Eko yakin. Sebab, industri di Bekasi membutuhkan daya listrik yang besar.

Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus, bersedia membuka sedikit rahasia tentang pengolahan sampah yang akan dilakukan perusahannya jika sudah ditunjuk sebagai pemenang lelang nanti. "Kami melakukan pengolahan dengan empat cara," kata Rekson. Keempat cara itu adalah pyrolisis, pemilihan sampah, pembuatan kompos, dan pembuatan biogas sebagai penghasil listrik.

Rekson membenarkan bahwa pihaknya menggandeng perusahaan asal Inggris bernama Navigate Organic Energy. Inggris memang sudah menjadi pionir dalam produksi listrik hijau. "Teknologi yang ada di sana kita harapkan bisa diadopsi di sini," kata Rekson penuh harap. Dia berharap bisa segera menandatangani kontrak agar proyek segera terlaksana.

Terkait dengan pendistribusian listrik dari pengolahan sampah, Rekson menjelaskan, hal itu merupakan kewenangan PLN. "Kita hanya memproduksi listrik saja, sedangkan pendistribusiannya menjadi wewenang PLN," katanya. Dia mengaku belum tahu konsumen yang kelak akan menikmati listrik dari sampah itu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, garis besar pengolahan sampah menjadi listrik dimulai dengan pemasangan pipa ke dalam tumpukan sampah untuk menangkap gas metana, yaitu gas yang dihasilkan dari proses kimia dekomposisi sampah. Metana kemudian diolah menjadi biogas dengan fungsi mirip gas elpiji yang digunakan masyarakat.

Sampah yang diolah tersebut harus mengalami pemilahan terlebih dahulu dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Kemudian, sampah menjalani proses pyrolisis dengan pemanasan tingkat tinggi. Proses tersebut akan menghasilkan gas sintetik. Gas inilah yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik.

Pelaksanaan pengolahan sampah menjadi listrik di Jakarta menarik perhatian sejumlah LSM. Direktur Eksekutif Walhi Jakarta, Selamet Daroyni, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap terobosan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. "Meski demikian, harus ada keterbukaan atas pelaksanaan proyek tersebut agar masyarakat mendapat informasi yang benar," katanya tegas.

Selama ini, lanjut Selamet, Pemprov DKI Jakarta tidak pernah terbuka terhadap teknologi yang akan dilakukan dalam pengolahan sampah menjadi listrik itu. "Jangan sampai nanti proyek ini batal karena ada ketidaksesuaian dalam hal-hal teknis," kata pria kurus ini. Hal itu pernah terjadi pada 1990-an ketika Pemprov DKI Jakarta menggembar-gemborkan akan membangun sanitary landfill di Bantargebang yang akhirnya batal.

"Pengolahan sampah menjadi energi memang sudah waktunya diterapkan di Jakarta," ujar Selamet. Selain perlu adanya keterbukaan dalam proyek itu, dia berharap Pemprov DKI Jakarta bisa konsisten dalam melakukan pengolahan sampah ini. Artinya, pengolahan sampah jangan sampai berhenti di tengah jalan, namun harus berkesinambungan.

Jika di Camden bisa, mengapa di Jakarta tidak? n ikh