03 August, 2011

Agriculture: The Forgotten One


In the modern State of Indonesia, that is quite old, the Indonesian people still covered a wide range of issues. The Indonesia's economic crisis in 1998 is peak impotence of the country's problems. The economic crisis led President Soeharto resigned before his term ended.

The end of Soeharto-era and is not accompanied by the end of the economic crisis. The leadership changes and changes in economic policies cannot help people rise from poverty. Rising prices and falling purchasing power make people choke and forced them to return to the use of wood for cooking and tubers for food. Conditions are not very different with the food shortages in the 1950s, when President Sukarno was in power. This shows that this nation has no significant progress after 55 years.

Indonesia is rich in natural resources with enormous potential of it. On the basis of those considerations, it seems reasonable, if the people proud with Indonesia as an agrarian country. However, it was not accompanied by the desire of the pride wealth to develop and exploit it. This was proved when the agricultural sector is no longer seen as the economic arm of the country. The rulers of this country more temptation to stimulate industrialization and mechanization, which was helpless when the wave of economic crisis.

The agricultural sector has proven to be a sector that remains standing strong when the economic crisis engulfing the nation. Agriculture is not negatively affected from the shock of economic crisis. In fact, when the conglomerates in the capital fell into bankruptcy and debt, some farmers in different regions of increased incomes and improved living standards. The fall of the rupiah against the dollar could increase the selling value of commodities produced by farmers. This makes the agricultural sector still exist and persist.

Agricultural economic system has proven to increase employment. When other companies went bankrupt and dismissed its employees in connection with the economic crisis, the agricultural sector remains strong and simply ogled many to be the place for business. Employment in the agricultural sector is open to all, the experience is different. The agricultural sector can absorb skilled manpower and unskilled. Production processes in the agricultural sector can take place in towns and villages in order to reduce the urbanization, which is now growing. According to the Ministry of agriculture (2002) of the agro-industrial sector can increase employment more than 350,432 peoples.

Agricultural development no longer a priority. Agricultural functions in the economic system of Indonesia has inexistence. Since 1985, the development paradigm has shifted into high-tech industry-driven development. In fact, based industrialization development strategy will trap the nation from dependence on imported raw materials. In other words, the industry is highly vulnerable to the volatility of the rupiah against the dollar advanced and can deplete foreign exchange reserves, so it will not be helpless when faced with economic crisis.

Ironically, once Indonesia is self-sufficient in rice in 1984, it has become one of the largest in the country of the rice importers. Indonesia had made a sale of aircraft production PTDI are compensation with Thailand. Aircraft is exchanged with the rice, an act that should not be done by an agrarian country, such as Indonesia.

The Government in Soeharto-era seems satisfied with the award to the achievements of FAO Rice self-sufficiency in 1984. Direction of development made the leap to sophisticated high-tech industry. The lack of attention to the agricultural sector is the beginning of a calamity to the nation. Farmlands converted into industrial land will give rise to food production declined. The population and the availability increased demand for food in abundance. Rice imports a final exit. (Photo courtesy of UN File/P Sudhakaran).

24 March, 2011

Memprediksi Tsunami Menggunakan Ethologi

Gelombang air laut mahadahsyat menghantam wilayah timur laut Jepang pada Jumat (11/3). Gempa sebesar 8,9 Skala Richter memicu gelombang tsunami, membuat air laut seolah tumpah ke darat dan menyeret apa pun yang berada di hadapannya. Siaran stasiun televisi Jepang NHK memperlihatkan air laut menerjang segala yang ada di pelabuhan, lahan pertanian, jalan, hingga gedung-gedung di perkotaan. Tsunami itu menjadi salah satu bencana terdahsyat di Negeri Sakura.

Meski banyak versi tentang jumlah korban jiwa, namun media-media di Jepang menyebut korban jiwa bisa mencapai ribuan orang, belum termasuk korban yang masih tertimbun. Bantuan kemanusiaan dan regu penyelemat dari berbagai dunia, termasuk Indonesia, berduyun-duyun masuk ke Jepang. Bencana di Jepang ini membuat seluruh dunia ikut waspada. Setidaknya ada 20 negara yang memberlakukan ‘waspada tsunami’ di wilayahnya masing-masing. Beberapa jam setelah gempa di Jepang, tsunami juga ikut mampir di Papua, menyeret rumah-rumah nelayan.

Di tengah keprihatinan atas bencana yang merenggut korban nyawa dan materi yang amat banyak, muncul kekhawatiran lain. Gempa juga telah menyebabkan kebocoran atap bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang terletak tidak jauh dari Kota Sendai atau sekira 250 kilometer di utara Tokyo. Semua warga yang tinggal dalam radius 20 kilometer dari PLTN langsung diungsikan untuk mencegah dampak radiasi. Kondisi itu membuat sejumlah pihak khawatir bencana radiasi nuklir di Chernobyl, Uni Sovyet, pada 1986 silam kembali terulang di Jepang.

Jepang dianggap sebagai satu-satunya negara yang memiliki mitigasi dan langkah antisipasi paling baik dalam menghadapi berbagai bencana. Jepang merupakan negara kepulauan yang berada dalam wilayah bencana. Kondisi itu membuat Jepang memiliki infrastruktur dan teknologi yang baik dalam mengadapi bencana, khususnya gempa. Hampir seluruh gedung di Jepang berteknologi tahan gempa, alat deteksi tsunami dan gempa ada di mana, dan tak terhitung lagi ilmuwan yang mempelajari gempa.

Kerusakan dan korban jiwa yang dialami Jepang akibat tsunami membuktikan bahwa kesiapan dalam menghadapi bencana sangat penting untuk dimiliki negara mana pun. Salah satu kunci untuk meningkatkan kesiapan dan mengurangi dampak kehancuran akibat tsunami adalah sistem peringatan dini (early warning system). Semakin cepat peringatan tsunami didapat, semakin minim jumlah korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan. Sistem peringatan dini sebagain besar menggunakan teknologi canggih yang berbiaya tinggi, ada salah satu bagian alatnya yang harus ditempatkan di dasar lautan.

Salah satu alternatif untuk memprediksi datangnya tsunami adalah ethologi, yakni ilmu yang mempelajari gerak-gerik atau tingkah laku hewan di lingkungan alam dan di lingkungan lain dimana hewan tersebut bisa hidup. Penggunaan ethologi untuk memprediksi gempa dan tsunami belum diterima secara luas oleh para peneliti. Sebagian menganggap tingkah laku hewan tidak memiliki hubungan dengan datangnya gempa dan tsunami, bahkan ada yang menganggap tingkah laku abnormal hewan sebelum tsunami hanyalah anekdot.

Meski demikian, setiap kejadian tsunami dan gempa dilaporkan selalu didahului atau diiringi oleh perilaku abnormal hewan. Situs berita Kompas.com pada Sabtu (12/3) memberitakan, bencana tsunami yang melanda Jepang dan perairan Samudera Pasifik ditengarai telah menyebabkan ikan bermigrasi sampai di Samudera Indonesia atau dikenal dengan Samudra Hindia. Sehari pascatsunami di Jepang, para nelayan pantai selatan Kulon Progo justru panen ikan. Beberapa nelayan yang melaut mendapatkan tangkapan yang cukup banyak.

Sekitar 80 persen gempa di Jepang memang terjadi di tengah lautan. Hal ini menyebabkan terjadinya perilaku abnormal pada ikan. Spesies ikan yang biasa hidup di lautan dingin yang dalam dapat tertangkap oleh nelayan di perairan yang dangkal dan hangat beberapa saat sebelum terjadinya gempa. Ikan memiliki sensitivitas tinggi terhadap variasi medan elektrik yang terjadi sebelum gempa. Sensitivitas seperti ini memungkinkan beberapa hewan untuk dapat mendeteksi gas radon yang dikeluarkan dari tanah sebelum gempa.

Tingkah laku hewan sebelum terjadi gempa dan tsunami juga tercatat dalam beberapa bencana besar. Salah satunya ketika tsunami yang menghantam Aceh, Thailand, dan Srilangka pada 2004 silam. Kantor berita Reuters melaporkan, Taman Nasional Yala di Srilangka telah dipenuhi oleh mayat manusia, namun tidak satu pun ditemukan bangkai-bangkai hewan. Taman Nasional Yala merupakan rumah bagi 200 ekor gajah asia, leopard, rusa, dan hewan liar lainnya.

Gelombang tsunami yang menerjang Srilangka sama sekali tidak membunuh hewan-hewan yang terdapat di daerah tersebut. Seorang staf di Taman Nasional Yala mengatakan bahwa tidak ada gajah yang mati, bahkan tidak ditemukan bangkai hewan kecil seperti kelinci sekalipun, hewan memiliki indera keenam dan dapat merasakan gejala suatu bencana.

Di pantai Khao Lak, Thailand, gajah-gajah tunggang yang sedang dinaiki turis terlihat gelisah dan berlarian ke arah bukit. Beberapa saat sebelum datangnya gelombang, gajah ini terus menerus bersuara dan gelisah (agitated). Mereka ini kembali tenang dan tidak bersuara setelah berada di bukit. Setelah itu, muncul gelombang tsunami yang menghantam pantai sejauh satu kilometer. Gajah-gajah yang ditunggangi turis itu pun selamat dan tidak tersentuh gelombang. Gajah ini telah menyelamatkan sejumlah turis asing dari gelombag tsunami.

Ensiklopedia bebas Wikipedia menjelaskan, istilah ethologi diturunkan dari bahasa Yunani. Pertama kali istilah ini diperkenalkan dalam bahasa Inggris William Morton Wheeler pada 1902. Ilmuwan lainnya, John Stuart Mill, menganjurkan ethologi agar dikembangkan menjadi cabang sains baru. Etologi dapat dibedakan dengan psikologi komparatif yang juga mempelajari perilaku hewan, namun menguraikan studinya sebagai cabang psikologi.

Hewan memiliki tingkah laku yang terlihat dan saling berkaitan secara individual maupun kolektif. Berbagai macam tingkah laku hewan merupakan cara bagi hewan tersebut untuk berinteraksi secara dinamik dengan lingkungannya. Tingkah laku yang dimiliki oleh berbagai macam hewan telah melahirkan bidang ilmu tersendiri bernama ethologi. Kepercayaan yang mengatakan bahwa hewan dapat merasakan gejala alam dan gempa telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada tahun 373 SM, sejarawan mencatat hewan seperti tikus, ular, dan musang telah meninggalkan kota Helis di Yunani beberapa hari sebelum terjadinya gempa yang menghancurkan kota tersebut.

Para ethologis mempelajari fisiologi perilaku dengan metode analisa dan morfologi perilaku dengan metode komparatif. Konrad Z. Lorenz dianggap sebagai Bapak Ethologi Modern. Lorenz merumuskan bahwa perilaku hewan, adaptasi fisiknya, merupakan bagian dari usahanya untuk hidup. Dalam ethologi diakui bahwa perilaku hewan timbul berdasarkan motivasi, hal ini menunjukan bahwa hewan mempunyai emosi. Ethologi erat kaitannya dengan bidang ilmu lain seperti geologi karena ada beberapa perilaku hewan yang dapat menunjukan akan terjadinya suatu gempa atau tsunami.

Meskipun demikian, beberapa ahli geologi di Amerika masih bersikap skeptis dalam melihat fenomena tingkah laku hewan sebelum terjadinya tsunami. Andi Michael, seorang ahli dari United States Geological Survey (USGS) menganggap bahwa tingkah laku abnormal hewan yang terlihat sebelum terjadinya tsunami ini hanyalah sebuah anekdot. USGS menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku hewan dengan terjadinya gempa. Pada tahun 1970-an, USGS pernah melakukan penelitian tentang prediksi gempa melalui pengamatan perilaku hewan, namun tidak ada hasil nyata dari penelitian.

David Jay Brown dalam artikelnya yang berjudul Etho-Geological Forecasting menulis, fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada hewan sebelum terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori, di antaranya teori untrasound pergerakan bumi, teori gas sebelum gempa, dan teori medan magnet bumi. Sebagian besar hewan memiliki kapasitas pendengaran yang melebihi manusia, contohnya kucing dan anjing bisa mendengar getaran suara hingga 60.000 Hertz, sedangkan manusia hanya hingga 20.000 Hertz. Hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran suara ultra (ultrasound) getaran microseisms dari patahan batuan.

Beberapa peneliti memperkirakan hewan-hewan dapat merespon gas radon atau gas lain yang dikeluarkan dari dalam bumi sebelum gempa. Diketahui pula bahwa dalam kondisi geologi tertentu, konsentrasi gas seperti metana di dalam tanah dapat berubah sedikit. Gas juga kadang-kadang dilepaskan dari tanah selama gempa bumi. Sebagian besar hewan memiliki indera penciuman yang tajam dibanding manusia terhadap beberapa jenis gas. Hewan-hewan sering dilaporkan bertingkah ketakutan sebelum letusan gunung berapi.

Hidung anjing sekitar satu juta kali lebih sensitif daripada manusia, dan beberapa serangga, seperti ngengat (silk moth) memiliki kemampuan luar biasa penginderaan luar biasa. Sebagai contoh, pada saat kawin, ngengat betina menghasilkan kurang dari sepersejuta gram molekul sex attractant yang disebarkan oleh angin, lalu sinyal ajakan kawin (mating signal) itu bisa ditangkap dengan antena sensitif ngegat jantan tujuh mil jauhnya. Sebuah molekul saja sudah cukup menarik ngengat jantan untuk mengejar betina.

Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan perilaku abnormal pada hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap variasi medan magnet bumi yang terjadi di dekat pusat gempa (epicenter). Perubahan medan magnet bumi dapat mempengaruhi proses migrasi burung-burung dan menganggu kemampuan navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat keluar sebelum terjadinya gempa, hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik dapat merubah pemancar gelombang syaraf (neurotransmitter) dalam otak hewan.

Dari beberapa teori itu menunjukkan bahwa sistem peringatan dini dengan menggunakan ethologi perlu dipertimbangkan meski memerlukan pengembangan dan penelitian lebih lanjut. Cina telah menjadi pioner dengan mendirikan stasiun percobaan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi menggunakan observasi biologi di Provinsi Xingtai pada tahun 1968. Jika sistem ini telah teruji dan berkembang dengan baik, maka sistem ini dapat menghemat biaya dalam membeli berbagai instrumen dan peralatan untuk memprediksi gempa. Indonesia kaya akan fauna, sehingga bisa turut mengembangkan prediksi tsunami memakai ethologi ini.

09 January, 2011

Meramal Masa Depan APEC

Dalam beberapa pekan terakhir, Asia Timur menjadi pusat perhatian para ekonom, analis, dan para penentu kebijakan dari berbagai dunia. Alasannya, dua kota di kawasan ini menggelar hajatan pertemuan ekonomi besar dunia, yaitu Group of 20 (G20) di Seoul, Korea Selatan, dan Kerja Sama Ekonomi Negara-Negara Asia Pasifik (APEC) di Yokohama, Jepang.

Dua konferensi itu digelar dalam waktu yang hampir bersamaan. Konferensi APEC di Yokohama 13-14 November 2010 cukup mendapat perhatian dunia. Wajar, usia APEC sudah lebih dari dua dekade dan terus mengadakan pertemuan rutin. Asia Pasifik memang menjadi salah kutub perekonomian dunia, khususnya dalam lima tahun terakhir.

Distrik Minato Mirai di kota pelabuhan Yokohama yang bersuhu 16 derajat celcius menjadi lokasi pertemuan 21 kepala negara anggota APEC pada Sabtu (13/11), termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, membahas perkembangan perekonomian dunia, salah satunya perdagangan bebas terbuka, topik yang selalu menjadi isu APEC sejak pertemuan di Bogor pada 1994 silam.

Pertemuan APEC 1994 di Bogor menghasilkan Bogor Goals yang isinya berupa komitmen untuk mencapai perdagangan dan investasi bebas terbuka pada 2010 bagi negara industri dan pada 2020 bagi negara berkembang. Bogor Goals menjadi manifestasi dari ambisi negara-negara APEC bahwa perdagangan bebas terbuka merupakan cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pada pertemuan APEC di Yokohama ini dilakukan assessment terhadap Bogor Goals oleh lima negara industri di APEC yang dikenal dengan 'The Five', yakni Australia, Kanada, Jepang, New Zealand, dan Amerika Serikat, serta beberapa perwakilan negara berkembang, menyatakan masih banyak yang harus dikerjakan terlebih dulu sebelum melaksanakan Bogor Goals yang di dalamnya menyepakati perdagangan bebas terbuka.

Beberapa media asing lebih ekstrim lagi menginterpretasikan kesepakatan itu. APEC dianggap gagal mewujudkan kawasan perdagangan bebas terbuka di Asia Pasifik. Padahal, rencana itu sudah disusun hampir dua dekade sebelumnya, namun kesepakatan perdagangan bebas terbuka itu malah dinyatakan sebagai rencana jangka panjang.

Dalam hasil pertemuan pemimpin negara-negara APEC terkait Bogor Goals Assessment pada Ahad (14/11) dijelaskan, upaya pencapaian Bogor Goals telah memperlihatkan hasil signifikan. Nilai perdagangan negara-negara APEC telah memberi pengaruh besar terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. APEC pun melansir angka untuk memperkuat klaimnya itu.

Dalam kurun 1994-2009, perdagangan negara-negara APEC dengan negara lain di dunia meningkat rata-rata 7,1 persen per tahun dengan capaian 11,4 triliun dolar AS pada 2009. Nilai perdagangan komersil di kawasan APEC juga meningkat rata-rata 7 persen, atau mencapai 4 triliun dolar AS pada 2009. Sedangkan, Inflows of foreign direct investment (FDI) di kawasan APEC meningkat 13 persen per tahun sejak 1994 and Outflows of foreign direct investment (ODI) 12,7 persen per tahun.

Presiden Tiongkok Hu Jintao seperti dikutip China Radio Internasional mengatakan Bogor Goals memiliki arti monumental bagi perkembangan APEC ke depan. Hu juga mengakui, "Tahun ini adalah batas waktu terakhir bagi anggota-anggota negara berkembang APEC untuk mewujudkan Bogor Goals," kata Hu dalam pertemuan puncak APEC, Ahad (15/11).

Namun, Hu menyadari bahwa proteksionisme telah meningkat di kawasan Asia Pasifik. Perekonomian global juga masih dibayangi ketimpangan (imbalances). Oleh karenanya, dalam pernyataan akhir para pemimpin negara APEC, konsep perdagangan bebas terbuka di Asia Pasifik bukan disebut sebagai hasil akhir, melainkan sebagai 'aspirasi yang perlu diterjemahkan lebih konkret lagi'.

Wajar jika Hu menganggap proteksionisme masih tinggi. Mudah diprediksi, pernyataan Hu itu mengarah kepada AS yang mengumumkan quantitative easing atau pengucuran dolar sebesar 600 miliar ke pasar. Dolar pun melemah, lantas membuat konsumsi produk dalam negeri AS meningkat. Ekspor AS lalu meningkat, ekonomi tumbuh, pengangguran di AS pun berkurang. Inilah proteksionisme.

Data perdagangan Departemen Keuangan AS menunjukkan, total ekspor AS pada Oktober 2010 mencapai 153,9 miliar dolar AS, jauh dari angka impor barang dan jasa yang mencapai 200,2 miliar dollar AS. Impor barang dan jasa dari Cina tumbuh 6,1 persen pada Agustus mencapai rekor sebesar 35,3 miliar dolar AS. Sementara, defisit perdagangan AS-Cina juga menyentuh angka baru sekitar 28 miliar dolar AS, ketika ekspor AS ke Cina stagnan di angka 7,3 miliar dolar AS.

Namun, APEC tetap menganggap ada progres signifikan dalam mencapai mimpi perdagangan bebas terbuka di Asia Pasifik. APEC melalui Trade Facilitation Action Plan (TFAP), mengklam berhasil menekan biaya perdagangan di Asia Pasifik sebesar 5 persen dari 2002 hingga 2006. Tambahan penurunan biaya 5 persen lagi melalui TFAP tahap dua bisa tercapai 2010 ini.

Jika target perdagangan bebas terbuka bagi negara industri APEC belum kunjung tercapai pada 2010 ini, bagaimana dengan perdagangan bebas terbuka bagi negara berkembang APEC pada 2020? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang ikut hadir di pertemuan APEC 2010 di Yokohama ini masih optimis menjawab pertanyaan itu.

"Memang dari observasi kebersamaan kita dalam APEC ini hasilnya nyata, apakah itu peningkatan forum perdagangan, peningkatan volume perdagangan intra-APEC, kemudian penurunan tarif, peningkatan foreign direct investment, peningkatan services, itu nyata ada yang lima kali lipat, tiga kali lipat," kata Presiden selepas mengikuti pertemuan pertama APEC, Sabtu (13/11).

Presiden menegaskan, APEC masih tetap relevan di tengah banyaknya pertemuan-pertemuan ekonomi negara-negara di dunia, seperti G7 dan G20. Presiden beralasan, ketika Bogor Goals dirumuskan, perekonomian dunia masih dikendalikan oleh negara-negara maju. Dalam perjalanannya, terjadi krisis pada 1998 dan 2008, lalu muncullah emerging countries, seperti Brazil, Tiongkok, dan India.

Presiden memberi catatan, APEC bisa tetap relevan jika forum ini tidak hanya berhenti pada perdagangan dan investasi bebas terbuka saja. "Juga perlu pembangunan kapasitas, fasilitasi negara-negara berkembang harus diberikan agar juga bisa ikut tumbuh perekonomian negara berkembang itu dalam rangka APEC, kemudian juga ada isu lain, misalnya konektivitas, supaya lebih bagus logistik di kawasan ini," kata Presiden.

Ekonom senior The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Pande Raja Silalahi, juga mengakui bahwa masih perlu banyak waktu bagi APEC dalam mewujudkan cita-citanya. "Perlu menyamakan persepsi dulu mengenai apa yang bisa dilakukan," kata Pande ketika dihubungi, Senin (15/11). Hal itu butuh waktu yang tidak lama.

"Setidaknya perlu 2-3 tahun bagi APEC," kata Pande. Meski demikian, Pande tetap berpendapat bahwa APEC masih tetap relevan di tengah banyaknya forum-forum ekonomi lain yang saat ini getol dilakukan oleh para pemimpin dunia. Menurut Pande, APEC datang lebih dulu dibanding G20, G7, dan forum-forum ekonomi lainnya. (photo courtesy: AP Photo)

28 October, 2010

Letusan Gunung Merapi dan Elang Jawa


Gunung Merapi di Jogjakarta baru saja meletus dan merenggut nyawa puluhan orang warga desa setempat. Letusan gunung itu memberi hikmah yang cukup mendalam tentang bencana alam. Gunung Merapi mengajarkan kita betapa bencana itu bisa datang kapan saja, tanpa mengenal waktu dan tempat.

Manusia sama sekali tidak bisa menghentikan datangnya bencana. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia saat ini hanya bisa memprediksi kapan bencana itu datang. Prediksi itu pun tidak seratus persen akurat, namun tetap bermanfaat sebagai langkah antisipasi.

Oleh karenanya, ilmu pengetahuan untuk memprediksi datangnya bencana alam itu perlu terus digali. Hal itu tentu agar bisa mengurangi jatuhnya korban jiwa. Dengan adanya prediksi kejadian bencana, warga bisa terlebih dahulu dievakuasi dan ditempatkan di lokasi aman dari dampak bencana.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari letusan Gunung Merapi. Salah satunya pelajaran dalam memprediksi datangnya letusan gunung. Rumpun ilmu teknik dan geologi telah memiliki metode tersendiri dalam memprediksi letusan gedung.

Namun, Tuhan sebenarnya memberi cara lain dalam menunjukkan kebesaraannya. Makhluk-makhluk Tuhan ternyata bisa mengajarkan manusia untuk memprediksi bencana. Hewan-hewan tertentu bisa merasakan gejalan letusan gunung merapi sebelum gunung itu benar-benar meletus.

Beberapa hari sebelum Gunung Merapi meletus, sejumlah media massa melansir laporan adanya hewan yang menunjukan perilaku tak lazim. Kantor Berita Antara melaporkan sekumpulan burung Elang Jawa (bido) terbang meninggalkan kawasan hutan setempat ketika terjadi peningkatan aktivitas Merapi.

"Kami menandai, apa yang terlihat itu sebagai tanda kemungkinan udara di atas semakin panas sehingga bido itu turun," kata Sukisno (36), Ketua RT 02 RW 07 Dusun Gemer, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sekitar delapan kilometer dari barat puncak Gunung Merapi, di Magelang, Senin petang, seperti dikutip Antara.

Laporan itu menambahkan, sekumpulan bido yang berjumlah sekitar 20 ekor terlihat warga desa terakhir dari puncak Gunung Merapi. Kawanan burung ini terbang dari arah tenggara ke timur laut dari puncak Merapi. Warga setempat melihat sekumpulan burung itu terbang pukul 16.00 WIB melintasi dusun setempat yang penduduknya berjumlah 227 jiwa.

Burung itu selama ini tinggal di kawasan Hutan Deles yang letaknya dekat dengan Dusun Gemer. Warga mengatakan, saat Merapi akan erupsi yang terakhir pada pertengahan 2006 tidak melihat kejadian seperti itu. Merapi memang sempat mengalami aktivitas vulkanik pada 2006 silam.

Perilaku tak lazim dari Elang Jawa itu tentu bisa menjadi petunjuk akan terjadi letusan Gunung Merapi. Elang Jawa ternyata memiliki banyak kelebihan yang tak dimiliki manusia dalam merasakan gejala-gejala alam. Hal itu bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi manusia untuk dikaji dan diteliti secara komprehensif.


Elang Jawa
Ensiklopedi Wikipedia menjelaskan, Elang Jawa bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm (dari ujung paruh hingga ujung ekor). Kepalanya berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm).

Elang Jawa memiliki tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih, mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya.

Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan.

Sebagian besar Elang Jawa ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa, termasuk di Gunung Merapi yang berada di selatan Jawa. Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi.

Kemunculan Elang Jawa yang terbang rendah meninggalkan hutan bisa disebut perilaku tak lazim karana pada umumnya Elang Jawa memiliki sarang sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya.

Prediksi Gempa
Fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada hewan sebelum terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori. Sebagian besar hewan memiliki kapasitas pendengaran (auditory capacities) yang melebihi manusia. Selain itu, hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran suara ultra (ultrasound) sebagai getaran mikroseismis dari patahan batuan.

Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan perilaku abnormal pada hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap variasi medan magnet bumi yang terjadi di dekat pusat gempa. Perubahan medan magnet bumi dapat mempengaruhi proses migrasi burung-burung dan menganggu kemampuan navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat keluar sebelum terjadinya gempa, hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik dapat merubah pemancar gelombang syaraf dalam otak hewan.

Jane Hallander, peneliti unggas yang tinggal di San Fransisco menemukan hubungan antara gempa bumi dan burung Kakak Tua. Jane sendiri merupakan korban dalam gempa besar yang melanda Loma Prieta, California pada 1989. Jane memiliki burung Kakak Tua Abu-abu Afrika bernama Jing yang berperilaku aneh ketika akan terjadi gempa di California.

Perilaku aneh sang burung mulai terlihat delapan jam sebelum gempa. Padahal, Jane dan burungnya tinggal sejauh 450 mil dari pusat gempa. Jane mencatat, perilaku aneh yang diperlihatkan oleh Jing itu di antaranya mata tampak terbelalak melihat tanah dan berputar-putar jungkir balik di dalam sarang. Jane percaya perilaku itu diturunkan dari nenek moyang sebagai pertanda untuk meninggalkan sarang.

Dalam kondisi normal, Kakak Tua peliharaan bisa mudah dipegang dengan tangan tanpa berontak atau keinginan melepaskan diri. Namun, sifat sebaliknya akan muncul jika akan ada gempa dalam waktu 8-9 jam berikutnya. Kakak Tua akan berontak dan menolak masuk sangkar. Burung di alam bebas akan terbang sejauh mungkin ketika bahaya di balik permukaan tanah.

Kakak Tua yang berada dalam sangkar biasanya merontokkan bulu di bagian ekor ketika mengetahui akan terjadi gempa. Hal itu terjadi karena ketika burung berada di dalam sangkar dan tidak bisa terbang jauh ketika akan terjadi gempa, maka akan ada produksi adrenalin berlebih hingga membuat rontok bulu. Kerontokan bulu juga terjadi ketika burung sudah berada dalam mulut predator (Hallander, 2007).

Dalam kasus gunung-gunung berapi, hewan-hewan tertentu bisa merasakan jenis-jenis gas tertentu yang keluar ketika akan terjadi letusan. Prof Stephen A Nelson dari Tulane University menyatakan, komposisi gas-gas yang keluar dari gunung berapi sering berubah sebelum terjadinya erupsi. Pada umumnya, perubahan komposisi itu terjadi pada peningkatan proporsi hydrogen chloride (HCl) dan sulfur dioxide (SO2).

Selain itu, gunung berapi yang akan meletus ditandai perubahan arus panas. Ketika magma mendekati permukaan atau pada saat suhu air tanah meningkan, jumlah arus panas akan meningkat. Uniknya, manusia tidak selalu merasakan perubahan suhu yang tergolong kecil. Perubahan suhu yang kecil ini baru bisa terdeteksi dengan menggunakan infrared remote sensing. Perubahan medan magnet bumi juga terjadi sebelum letusan.

Perubahan kondisi alam sebelum adanya aktivitas gempa atau vulkanik tidak hanya dirasakan oleh burung, namun juga oleh lebah sekalipun. Lebah terlihat meninggalkan sarangnya dalam kondisi panik beberapa menit sebelum gempa dan mereka tidak akan kembali ke sarangnya sampai 15 menit setelah gempa berhenti (Miller, 1996).

Para peneliti barat kini belum memiliki concern terhadap prediksi gempa atau letusan gunung melalui pengamatan perilaku hewan. Indonesia bisa menjadi pelopor. Wajar karena Indonesia merupakan rumah bagi ribuan, bahkan jutaan spesies hewan, bahkan banyak hewan endemis yang tidak ditemui di daerah lain. (images courtesy National Geography and Wikipedia) ***

26 February, 2010

Waiting Yudhoyono's Official Respond to 'Bank Century' Case

After long series of investigation held by the parliament over the 'Bank Century' case, President Susilo Bambang Yudhoyono announced on Thursday, Feb 25, that he will soon give an official respond to the case. This could be the first Yudhoyono's respond since the case occured on the late 2009. In my own word, Yudhoyono finally 'speak his mind' over this case.

"I will speak on the 'Bank Century' crisis. I plan to address the Indonesian people directly," said Yudhoyono on Plenary Cabinet Session Speech at Presidential Office, Thursday, Feb 25. All the cabinet members are there and hear what the President just explained. This will be a good story for journalist because Yudhoyono somehow never say a word about the 'Bank Century' cases.

Many political analist see the Yudhoyono's involvement on 'Bank Century' cases. Let me simplify, government decided to bail 'Bank Century' out from a sistemic failed bank. It is a reason why the government action for 'Bank Century' then called bail out. Government using 6,7 trillion IDR to bail the bank out.

The cases start to pop-up when analist told that the bail out action was improper. Government bail the bank for wrong reasons. Then, some of the parliamentary members argue that the government action to bail the bank out was a robbery. The money was used as a funding the Yudhoyono's presidential campaign on 2009 election, said unconfirmed source.

Yudhoyono surely want to make it clear. He said, as head of state, he was the most responsible person for everything that happened in the country. So, I think Yudhoyono need a moment to settle the issue, not to shake it. Official respond from Yudhoyono could be the best way to clear his name to the public.

Yudhoyono said he didn't want to be reactive about issues developing every day around the 'Bank Century' case. He didn't want to be dragged into political controversies. "I can't react to these issues every day. If I do, I will be drawn into endless controversy," he said. Well, Mr President, we wait for your speech then.

07 February, 2010

Mengenal FeedLIVE dan WinFeed


Para pelaku usaha peternakan membutuhkan campuran bahan pakan yang efesien untuk menyiasati tingginya biaya dalam membeli bahan pakan. Untuk memperoleh campuran bahan pakan yang paling efisien, diperlukan metode formulasi pakan yang paling akurat. Ternak memerlukan nutrisi (karbohidrat, lemak, protein, dan lain-lain) untuk menunjang hidupnya dan meningkatkan produk yang dihasilkan, seperti daging, susu, maupun telur. Kebutuhan nutrisi itu dipenuhi dari berbagai jenis bahan pakan (jagung, dedak padi, bungkil kedelai, dan lain-lain) yang dicampurkan menjadi satu dalam komposisi yang tepat, campuran itu disebut dengan ransum.

Ransum harus diramu dari bahan-bahan pakan agar dapat menyuplai kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan kebutuhan dan dengan biaya serendah mungkin. Dalam konteks ini, diperlukan metode penghitungan yang paling akurat agar diperoleh formulasi bahan pakan yang tepat. Sejumlah ahli makanan ternak telah memanfaatkan kehadiran teknologi informasi dengan menciptakan software-software yang mampu membuat formulasi bahan pakan paling akurat. FeedLIVE dan WinFeed merupakan software-software formulasi pakan yang paling populer penggunaannya di sektor peternakan.

FeedLIVE 1.5

Versi terbaru dari FeedLIVE yang tercatat dalam situs webnya adalah FeedLIVE 1.5. Software ini bukan dibuat oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Jepang, namun dibuat oleh Thailand. Hal ini menunjukkan betapa pembangunan peternakan di Indonesia tertinggal jauh oleh negara tetangga. FeedLIVE 1.5 diperuntukkan bagi dokter hewan, konsultan peternakan, nutrisionis ternak, maupun para pelaku usaha peternakan. Aplikasi software ini sangat cocok dengan Windows 95, 98, NT, dan XP.



Keluaran (output) dari FeedLIVE 1.5 berupa formulasi bahan-bahan pakan (dalam kilogram, pon, atau ton) yang akan dicampurkan menjadi campuran bahan pakan tunggal yang disebut dengan ransum. Formulasi yang dihasilkan oleh software ini adalah formulasi dengan biaya terendah (least-cost) karena faktor harga bahan pakan turut menjadi alat analisis. Metode progam linear (linear programming) menjadi dasar bagi setiap penghitungan yang diolah oleh FeedLIVE 1.5.

Secara garis besar, langkah-langkah dalam menggunakan FeedLIVE 1.5 sangat sederhana. Setelah memilih pilihan ”formulasi pakan” pada menu utama, FeedLIVE 1.5 akan menampilkan daftar kebutuhan nutrisi dari formula yang dipilih oleh pengguna (user). Kebutuhan nutrisi ini akan berbeda untuk setiap ternak, bahkan seekor ternak yang sama pun akan berbeda kebutuhan nutrisinya, tergantung pada umur, berat badan, dan tujuan produksi. Jika ditekan klik kanan (right click) pada salah satu dari kebutuhan-kebutuhan nutrisi ini, akan muncul menu tambahan yang meminta pengguna untuk mengubah, menghapus, atau menambah kebutuhan nutrisi.

Pengguna dapat memasukkan jenis bahan-bahan pakan yang akan digunakan dalam campuran bahan pakan. Jenis bahan pakan tersebut harus lengkap dengan kandungan nutrisi yang dimiliki. Data ini penting agar FeedLIVE 1.5 mampu menghitung jumlah pakan yang dicampurkan agar dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Pengguna harus mengikuti tahap-tahap yang diminta oleh FeedLIVE 1.5. Jika semua data telah diinput, maka langkah selanjutnya adalah menekan tombol Formulate di pop-up menu atau dengan menekan F9 pada keyboard.

Keluaran dari hasil analisis FeedLIVE 1.5 dapat disimak dengan lengkap dalam preview screen yang muncul setelah menekan tombol F9. Preview screen terdiri atas dua tabel yang berisi formulasi dari bahan-bahan pakan (dalam kilogram, pon, atau ton) yang akan dicampurkan dan kandungan nutrisi dalam campuran bahan-bahan pakan tersebut. FeedLIVE 1.5 dapat diaplikasikan untuk semua jenis ternak karena software ini memiliki basis data lengkap mengenai kebutuhan nutrisi setiap jenis ternak. FeedLIVE 1.5 juga mampu membuat formulasi pakan untuk campuran pakan dengan kapasitas (batch size) maksimal hingga 10 ton. Artinya, FeedLIVE 1.5 dapat diaplikasikan pada peternakan skala kecil hingga industri.

WinFeed 2.8

Dalam bisnis penjualan software formulasi pakan ternak, WinFeed 2.8 merupakan kompetitor utama FeedLIVE 1.5. Keduanya memiliki banyak keunggulan dalam melakukan formulasi pakan ternak. Salah satu perbedaannya adalah metode yang digunakan untuk menghitung formulasi pakan. Selain terdapat metode program linear, WinFeed 2.8 dilengkapi pula dengan metode stokastik untuk menghitung formulasi pakan paling murah berdasarkan probabilitas. Penggunaannya kompatibel dengan semua versi Windows dan Unix/Linux.



WinFeed 2.8 memiliki kemampuan melakukan formulasi dari bahan-bahan pakan yang jumlahnya tidak terbatas. Dengan kata lain, WinFeed 2.8 dapat menerima masukan (input) jenis bahan pakan dalam jumlah yang banyak untuk diformulasi dalam bentuk pakan tunggal (ransum). Jika data kandungan nutrisi bahan pakan yang akan diigunakan untuk membuat ransum tidak terdapat dalam WinFeed 2.8, maka pengguna dapat memasukkan data yang dimilikinya ke dalam basis data. Setiap basis data tersebut disimpan dalam file yang terpisah.

Keunggulan lain yang dimiliki WinFeed 2.8 adalah integrasi operasional dengan Microsoft Excel. Pengguna dapat memindahkan dengan mudah data yang ada Microsoft Excel ke WinFeed 2.8 dan sebaliknya. WinFeed 2.8 sangat cocok bagi pengguna yang menginginkan analisis ekonomi dalam formulasi pakan yang dihasilkan. Untuk melengkapi formulasi pakan hasil penghitungan, WinFeed 2.8 menyertakan pula harga marginal (marginal price), harga bayangan (shadow price), dan alat analisis ekonomi lainnya dari formulasi pakan yang dihasilkan. Oleh karena itu, pengguna WinFeed 2.8 sebagian besar adalah para pelaku usaha peternakan.

WinFeed 2.8 mampu membuat formulasi bahan pakan untuk campuran pakan dengan berat maksimal (batch size) 1.000 ton, jauh melebihi kemampuan FeedLIVE 1.5. Selain itu, WinFeed 2.8 dilengkapi dengan kemampuan untuk menghitung rata-rata dan simpangan baku dari metode stokastik. Keluaran (output) hasil perhitungan WinFeed 2.8 hampir sama dengan FeedLIVE 1.5, yaitu berupa jumlah (dalam kilogram, pon, atau ton) dari bahan-bahan pakan yang perlu dicampurkan untuk membentuk campuran bahan pakan tunggal (ransum). Namun, WinFeed 2.8 dapat menampilkan keluaran dalam diagram batang (bar chart) dan lingkaran (pie chart).

Formulasi bahan pakan menggunakan software hanyalah sebuah alat untuk mendapatkan formulasi terbaik dalam memperoleh campuran bahan pakan tunggal (ransum). Kualitas ransum hasil formulasi bahan pakan tetap harus memenuhi standar kualitas makanan yang baik. Artinya, bahan-bahan pakan penyusun ransum haruslah aman bagi ternak, mudah diperoleh, dan biayanya murah. Melalui langkah ini diharapkan produktivitas di Indonesia dapat meningkat secara signifikan.

09 December, 2009

Jemaah Haji di Ruang Psikiatri




Ruangan di sudut lantai basement Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPIH), Makkah, tampak berbeda dibanding ruang perawatan lain. Pintu masuk menuju ruangan itu menggunakan terali besi. Di atas pintu itu terdapat papan tipis bertuliskan 'Ruang Psikiatri'.

Orang sembarangan tak bisa masuk. Pintu masuk ruangan psikiatri ini lebih sering terkunci. Hanya dokter, perawat, dan keluarga pasien saja yang bisa masuk. Namun, malam itu, Jumat (20/11), Kepala Bagian Psikiatri, dr Amienuddin, mengizinkan beberapa orang untuk masuk melihat kondisi beberapa pasien.

Sebut saja Ahmad, jamaah haji asal Maluku Utara, dia sudah tiga hari berada di Ruang Psikiatri BPIH. Penampilan dia tidak seperti jemaah haji lain yang selalu berpeci atau bersorban. Lelaki yang usianya sudah berkepala enam ini menggunakan kaos berkerah dan berkacamata hitam.

Dia sesekali berbicara menggunakan bahasa daerahnya. "Ketika datang ke sini, ngomong-nya sudah tidak nyambung," kata Amien. Ahmad ditemani oleh istrinya dan saudara perempuannya. Di saat jemaah lain berlomba memperbanyak shalat dan tawaf di Masjidil Haram, Ahmad harus berada di Ruang Psikiatri.

Melongok lebih jauh ke dalam, Ruangan Psikiatri ini memiliki ruangan-ruangan kecil lain. Amien membuka satu ruangan, namun pintu itu sulit dibuka, seperti ada yang mengganjal. "Jangan duduk di situ ya, coba pindah ke tempat tidur," kata Amien kepada pasien perempuan yang duduk di belakang pintu.

Pemandangan sedikit menyedihkan ada di ruangan lainnya. Dua orang pasien pria dewasa terbaring di lantai. Kemudian, tangan kanannya terikat pada ranjang yang terbuat dari besi. "Kalau tidak diikat suka mengamuk dan menendang-nendang," kata Amien.

Jumlah jemaah haji yang dirawat di Ruang Psikiatri ini berjumlah 15 orang. "Semuanya memang sudah ada gejala sejak dari Tanah Air," ujar Amien. Bahkan, kata dia, sudah ada jemaah yang mendapat perawatan ketika berada di Indonesia sebelum berangkat ke Arab Saudi.

Saat ini, tim dokter dan perawat di Bagian Psikiatri BPIH ini terus memberi pengobatan dan perawatan bagi para pasien untuk waktu yang belum ditentukan. Padahal, pelaksanaan puncak haji berupa wukuf di Arafah tinggal hitungan hari lagi. Hingga Jumat (20/11), sudah ada 150 jemaah haji Indonesia yang disafariwukufkan

Total seluruh pasien yang ada di BPIH ini 86 pasien. "Sebagian besar pasien berusia lebih dari 60 tahun," kata staf dokter Bidang Pelayanan Medis BPIH, dr Anita Rosari. Penyakit yang paling banyak diderita pasien adalah penyakit jantung dan saluran pernafasan.

"Ada pula jemaah haji yang kelelahan," kata Anita. Dia menyarankan, jemaah haji harus banyak minum dan mengonsumsi buah-buahan sebagai asupan vitamin. Selain itu, jemah haji juga disarankan menjaga stamina selama di Tanah Suci.

BPIH kini mulai menempati gedung baru yang memiliki empat lantai di pinggiran Makkah. Tempat tersebut layaknya rumah sakit. Di dalamnya bertugas 13 orang dokter dan 46 perawat. BPIH sudah beroperasi aktif sejak kira-kira satu bulan lalu dan akan berakhir pada awal Januari 2010 mendatang.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Departemen Agama, Slamet Riyanto, mengatakan, secara keseluruhan ada 151 jemaah haji Indonesia yang dirawat di sejumlah rumah sakit di Arab Saudi. "Sebagian besar menderita penyakit bawaan Indonesia," kata Slamet.

Di samping itu, satu jemaah atas nama Minasih binti Warya (68) menjadi korban kecelakaan lalu lintas, sehingga mengalami patah tulang dan gegar otak. Lalu, Iyet Suryanti binti Pakih (33) melahirkan bayi cesar. Keduanya dirawat di RS King Fadh Madinah.