Meramal Masa Depan APEC

Kondisi perekonomian global yang dinamis menuntut APEC memperkuat kerja sama ekonomi anggotanya.

Indonesia Inc

Presiden harus menjadi Chief of Business Development (CBD).

Warisan Utang

Utang memang sudah ada sejak negara ini berdiri. Utang ini terus menyertai sejarah perjalanan Indonesia.

05 July, 2013

Negeri Para Bandit

Entah apa penyebabnya. Perjalanan bangsa ini tak pernah jauh dari urusan kekerasan. Ini terjadi sejak zaman kerajaan, penjajahan, hingga kemerdekaan. Para penjahat memang tak mengenal zaman. Seolah timbul dan tenggelam sepanjang waktu.

Memang tak adil kalau menyebut bangsa ini sebagai bangsa yang penuh dengan kekerasan. Alasannya, segala bentuk kejahatan terjadi juga di seluruh penjuru bumi. Bahkan, praktik menghilangkan nyawa merupakan kejahatan paling tua dalam sejarah manusia.

Namun, bangsa ini punya catatan sendiri soal sepak terjang para bandit. Mereka malah sudah beraksi sejak negara ini belum berdiri. Semuanya memiliki 'benang merah' serupa, yakni ketidakberdayaan penguasa pada masanya untuk meredam aksi para bandit.

Siapa tak kenal Ken Arok? Sosok yang dalam Kitab Pararaton ini merupakan pendiri Kerajaan Tumapel yang kelak terkenal menjadi Kerajaan Singasari. Sebelum menjadi raja, Ken Arok pernah menjalani hidup sebagai berandalan pada masanya.

Barangkali hampir semua jenis kejahatan pernah dilakoni Ken Arok, dari mencuri, berjudi, hingga membunuh. Ken Arok tak tersentuh hukum yang berlaku saat itu alias untouchable. Bahkan setelah menikah, dia 'berkolaborasi' dengan istrinya melakukan kejahatan.

Kerajaan Majapahit juga tak berdaya menghadapi para perampok dan penjahat. Mereka leluasa menjalankan aksinya di tengah-tengah masyarakat. Para bandit pada masa Majapahit ini ibarat penyakit akut yang sulit sembuh.

Penyamun tak hanya berjaya di darat, tapi juga di laut. Perairan nusantara kala itu penuh dengan perompak. Mereka menguasai jalur-jalur perdagangan hasil bumi. Lagi-lagi, 'polisi perairan' dari kerajaan tak berdaya menghadapi aksi mereka.

Pemerintah Hindia-Belanda juga dibuat repot dengan para bandit nusantara. Preman terus beraksi di sejumlah kota besar. Marsose dan veldpolite (polisi kota) kewalahan mengimbangi perampok yang tak hanya berasal dari etnis pribumi itu.

Para wedana hingga kepala wijkmeester (kepala kampung) boleh saja memegang posisi tertinggi di sebuah wilayah, tetapi para banditlah yang memiliki kuasa. Mereka juga menarik pajak tandingan kepada rakyat kecil.

Pada awal masa kemerdekaan, kriminalitas bukan hal asing. Di sinilah para jawara atau centeng leluasa menjalankan aksinya. Ketika itu, Indonesia memang sudah memiliki hukum dan pemerintahan, tapi para bandit ini sulit dikendalikan.

Presiden Soeharto pada masanya juga kerap dibuat repot oleh penjahat. Ketika itulah mulai muncul istilah preman. Mereka sama saja dengan bandit pada zaman majapahit yang berbuat onar dan kriminal. Soeharto pun menyikat habis para preman ini.

Siapa saja yang bertato dan berambut gondrong, aparat keamanan era Soeharto pasti menghabisinya. Apalagi para penjahat kambuhan, nyawa mereka kemungkinan besar hilang di tangan penembak misterius (petrus). Akan tetapi, tetap saja, preman tetap langgeng.

Zaman sekarang makin parah. Preman bukannya hilang, mereka malah berani menghabisi tentara. Preman tidak lagi melihat sasarannya siapa, gebuk sana-gebuk sini. Tentara pun naik pitam. Preman pembunuh tentara itu akhirnya diberondong peluru.

Perjalanan Indonesia untuk menghilangkan preman masih panjang. Mungkin perjalanan itu tak akan ada habisnya. Perkiraan ini wajar karena polisi yang seharusnya memberantas preman malah saling tembak dengan sesamanya.

Pada Sabtu (6/4), Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Makassar, Sulawesi Selatan, Kombes Purwadi ditembak seorang polisi berpangkat brigadir. Apa pun alasannya, penembakan ini menggelikan. Polisi bukannya menembak penjahat, malah menembak rekan seprofesi.

12 March, 2013

SBY dan Tepuk Tangan Mega

Selalu ada hal menarik di balik pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri. Presiden dan mantan presiden ini kerap berkomunikasi dengan cara khas. Keduanya kini jarang berkomunikasi secara lisan di hadapan publik, namun bahasa tubuh mereka justru bercerita banyak.

Pertemuan SBY dengan Megawati tergolong langka. SBY dan Megawati berada dalam satu acara yang sama pada Ahad (10/3). Keduanya menghadiri penganugerahan gelar doktor honoris causa dari Universitas Trisaksi bagi suami Mega yang juga Ketua MPR Taufiq Kiemas di Gedung Parlemen Senayan.

Barisan depan tempat duduk di acara itu adalah miliki para tamu penting, seperti SBY dan Wakil Presiden Boediono. Tak jauh dari kursi SBY, ada mantan wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MK Mahfud MD, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Sekjen PDIP Tjahjo kumolo, istri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah, dan putri Megawati, Puan Maharani.

Seperti lazimnya sebuah pidato, Taufiq menyampaikan terima kasih atas kedatangan para tamu. Taufiq mengawali pidatonya dengan mengucapkan selamat datang untuk sang istri, Megawati. Mendengar hal itu, hadirin pun sontak bertepuk tangan, tak terkecuali SBY.

Nama kedua yang disebut Taufiq adalah SBY. Taufiq menyampaikan terima kasih atas kedatangan SBY pada penganugerahan gelar doktor bagi dirinya. Hadirin pun kembali bertepuk tangan. Namun, Megawati memilih untuk diam dan tak bertepuk tangan seperti puluhan orang lain yang ada di ruangan itu.

Tepuk tangan memang hal sederhana, tapi bisa mengandung banyak makna. Peristiwa serupa terjadi pada 7 November 2012 lalu. Ketika itu, Megawati berada di Istana Negara untuk menghadiri pemberian gelar pahlawan nasional kepada Proklamator Sukarno dan M Hatta. Megawati hadir bersama beberapa anak Sukarno lainnya, seperti Guntur, Guruh, dan Rachmawati.

Setelah SBY membacakan keputusan presiden berisi penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk Sukarno dan Hatta, Presiden menyerahkan gelar itu secara resmi kepada Guntur dan Meutia Hatta yang mewakili keluarga. Setelah itu, Presiden memberikan pidato terkait pemberian gelar.

Semua pejabat negara yang hadir tampak memerhatikan pidato SBY. Tepuk tangan pun membahana ketika SBY menyelesaikan pidatonya. Namun, tangan Megawati tetap diam memegang tas dan kipas, tanpa bertepuk tangan. Sikap Megawati ini tampak mencolok karena Ketua DPR dan Wakil Presiden Boediono di samping Megawati tampak bertepuk tangan.

SBY dan Megawati pernah bertemu dalam acara santap malam kenegaraan menyambut Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada November 2010 silam. SBY dan Megawati duduk satu meja bersama Obama dan pejabat negara lain. Posisi duduk Megawati dan SBY hanya dipisahkan oleh Michele Obama.

Setelah Megawati kalah dalam Pilpres 2004, komunikasi dengan SBY di hadapan publik kiang jarang. Megawati tak tak memberi selamat kepada SBY yang sebelumnya menjadi menteri ketika Megawati menjadi Presiden. Megawati bahkan tak pernah menghadiri undangan upacara hari kemerdekaan di Istana Merdeka.

31 January, 2013

Kegundahan Sumitro

Sumitro Djojohadikusumo (kiri) bersama Widjojo Nitisastro dan Radius Prawiro sesaat sesudah dilantik menjadi menteri Kabinet Pembangunan II di Istana Negara, Jakarta. TEMPO/Syahrir Wahab
Lima tahun sudah Indonesia merdeka dari penjajah. Itu tak membuat Sumitro Djojohadikusumo semringah. Mahaguru ekonomi ini gundah melihat kondisi negara yang masih berdarah-darah mempertahankan perekonomian.

Hampir tak ada kemajuan ekonomi selepas Sukarno dan Mohammad Hatta membaca teks proklamasi. Penjajahan Jepang selama tiga tahun menyisakan luka tak terperi. Dai Nippon menutup pintu investasi ke Indonesia. Ekonomi dalam negeri lumpuh.

Penghancuran ekonomi Indonesia oleh Jepang membuat penanaman modal asing (PMA) hilang. PMA yang masih tersisa hanyalah sisa-sisa warisan kolonial Belanda. Itu pun terbatas di bidang perkebunan, pertanian, dan pertambangan.

Sumitro tak sabar ingin membalikkan keadaan. Kesempatan itu datang pada 1950. Ketika itu, kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) baru saja bubar. Terbentuklah Kabinet Natsir. Sumitro merupakan salah satu dari 18 anggota kabinet pimpinan Perdana Menteri Mohammad Natsir itu.

Dia mendapat amanah sebagai menteri perindustrian dan perdagangan. Sumitro intens membahas rencana perbaikan kondisi perekonomian dalam rapat-rapat kabinet. Kegundahaannya sejak awal masa kemerdekaan dibahas bersama para menteri lain.

Sumitro memberi usulan kongkrit. Dia menawarkan paket kebijakan bernama Rencana Urgensi Perekonomian (RUP). Inilah salah satu kebijakan awal Pemerintah Indonesia dalam mendorong pembangunan industri. Melalui RUP, industri dijadikan sebagai motor penggerak perekonomian.

RUP juga menjadi salah pedoman pertama dalam PMA. Meski begitu, RUP juga mendorong berkembangnya industri kecil dan menengah. Sasaran dari industrialisasi ketika itu adalah mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri.

Kabinet Natsir hanya berusia tujuh bulan, namun gagasan Sumitro soal industrialisasi berlanjut pada kabinet berikutnya. Kabinet Wilopo mulai memberi gambaran jelas soal industrialisasi dan investasi di Indonesia.

Kabinet Wilopo membuka sebesar-besarnya usaha swasta untuk mengolah sumber daya alam menjadi barang industri. Ketika itu, Bank Industri Negara membantu menyediakan modal yang diperlukan swasta.

Hal tersebut menjadi arah pembangunan industri tahun-tahun berikutnya. Pemerintah terus memberi kemudahan kepada industri swasta. Kebijakan ini juga menjadi karpet merah untuk asing membuka usaha di Indonesia.

Berbagai kemudahan bagi industri terus berlanjut beberapa dekade berikutnya. Kemudahan itu dikemas dalam skema berbeda-beda. Pemerintah kembali meningkatkan kemudahan bagi industri setelah Indonesia lepas dari krisis ekonomi 1998.

Di masa kini, kemudahan bagi industri tak bertujuan menarik investasi, tapi sudah jadi fenomena global. Semua negara berlomba untuk menarik modal. Dengan modal inilah ekonomi bisa bergerak dan lapangan pekerjaan terbuka.

Pemerintah memberi kemudahan pajak (//tax allowance// dan //tax holiday//). Bagi industri tertentu yang memenuhi syarat. Tak hanya itu, perusahaan tertentu juga mendapat subsidi, khususnya subsidi energi.

Energi jadi kebutuhan utama sebuah negara, bukan korporasi. Hingga kini masih banyak perusahaan yang menikmati subsidi listrik dalam menjalankan usahanya. Padahal, di saat yang sama, rakyat juga membutuhkan subsidi listrik.

Rakyat sudah 'terpaksa' berkorban membayar tarif listrik lebih mahal karena subsidi listrik terus berkurang. Tapi, masih ada perusahaan yang menikmati subdisi listrik. Kondisi ini sangat memberatkan.

Tahun ini, tarif listrik naik bertahap sebesar 15 persen. Bahkan, pemerintah telah melakukan penyesuaian tarif tenaga listrik rata-rata sebesar 10 persen sejak awal Juli 2010. Sementara, masih ada 55 perusahaan yang menikmati subsidi listrik.

Pemberian subsidi listrik bagi perusahaan besar tentu bukan lagi bentuk kemudahan usaha karena subsidi listrik juga dibutuhkan rakyat. Ini berbeda dengan semangat industrialisasi Sumitro beberapa dekade silam.

Konsep pemberian fasilitas dan kemudahaan bagi industri tentu tak bisa mengorbankan kebutuhan dasar rakyat. Di masa yang kian kompetitif ini, perusahaan dituntut memaksimalkan semua sumber daya yang ada untuk menggerakkan roda bisnis.

02 November, 2012

Warisan Utang

Belanda tak begitu saja menerima Proklamasi kemedekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Teks berisi pernyataan kemerdekaan ini tak mengubah status Indonesia di mata Belanda. Indonesia tetaplah sebagai gugusan kepulauan di khatulistiwa yang jadi bagian Belanda sejak ratusan tahun.

Negara kecil di Eropa ini merasa wilayah Indonesia masih sebagai daerah jajahannya yang bernama Hindia Timur atau Hindia Belanda. Tak lama setelah Proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda memilih opsi agresi militer. Mereka merekrut pemuda-pemuda dari penjuru Belanda, lalu mengirimnya sebagai tentara ke Indonesia untuk merebut kembali Hindia Belanda.

Jalan kekerasan yang dipilih Belanda ini ternyata mendapat perlawanan sengit dari pejuang kemerdekaan Indonesia. Di saat yang sama, Belanda juga mendapat kecaman dari dunia internasional. Belanda perlahan sadar bahwa agresi militer bukan pilihan tepat. Jalur diplomasi mulai jadi pilihan berikutnya.

Indonesia dan Belanda menggelar sejumlah pertemuan sebagai langkah diplomasi, di antaranya Perundingan Linggajati, Perjanjian Renville, Perjanjian Roem-Roijen, dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Pertemuan yang disebut terakhir merupakan puncak dari strategi diplomasi Indonesia dan Belanda.

KMB berlangsung di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus hingga 2 November 1949. Wakil Presiden M Hatta memimpin delegasi Indonesia. KMB memiliki banyak makna politik. Selama ini, KMB dipahami sebagai awal pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Ini adalah syarat dari Belanda sebelum memberi pengakuan kedaulatan.

Ada aspek penting yang kerap terlupakan dalam hasil KMB. Kesepakatan ini ternyata tak hanya berisi aspek politik, melainkan juga ada aspek ekonomi. Dalam satu satu hasil KMB menyebutkan, RIS harus mengambil alih utang Hindia Belanda! Ini berarti, semua utang Hindia Belanda ketika itu harus dibayar oleh RIS. Jumlahnya lebih dari 1 miliar dolar AS.

Bagai petir di siang bolong. Indonesia yang sedang berupaya mempertahankan kemerdekaan dan menata kehidupan politik di dalam negeri tiba-tiba mendapat beban utang. Bagaimana mungkin, negara yang baru saja berdiri dan belum berpikir untuk menerima pinjaman dari luar negeri, tiba-tiba punya beban utang dalam anggaran negaranya.

Ini adalah awal dari sejarah utang luar negeri Indonesia. Utang memang sudah ada sejak negara ini berdiri. Utang ini terus menyertai sejarah perjalanan Indonesia. Celakanya, Indonesia tak hanya punya utang lama yang merupakan warisan Hindia Belanda, tapi juga menimbun utang-utang baru di setiap rezim.

Orde Lama tak luput dari utang. Justru, utang ini jadi alat baru bagi negara-negara Barat untuk menjajah Indonesia. Masuknya kesepakatan pengambilalihan utang Hindia Belanda oleh RIS dalam KMB juga tak terlepas dari pengaruh negara Barat, khususnya AS. Wajar, perusahaan minyak asal AS ada yang sudah bercokol di Indonesia sejak 1920-an silam.

Soekarno menolak membayar utang warisan kolonial dan waspada terhadap utang-utang baru. 'Go to hell with your aids,' begitu ucapan Soekarno kepada AS.  Namun, Orde Lama tetap punya catatan utang. Di luar utang warisan kolonial, Indonesia punya utang luar negeri lebih dari 3 miliar dolar AS.

International Monetery Fund (IMF) makin menguatkan cengkeramannya di Indonesia memasuki Orde Baru. Koalisi Anti Utang mencatat, utang selama Orde Baru membengkak jadi 54 miliar dolar AS. Selama 32 tahun, utang bukannya dilunasi, tapi malah dijadikan alat memperkaya diri para pejabat negara.

Empat rezim setelah Orde Baru juga bergelimang utang. Hingga Mei 2012, total utang Pemerintah Indonesia mencapai Rp 1.944,14 triliun, terdiri dari pinjaman luar negeri Rp 638 triliun, pinjaman dalam negeri Rp 1 triliun, dan surat berharga negara (SBN) Rp 1.304 triliun. Itu menjadikan utang Indonesia tertinggi di ASEAN.

Tahun depan, pemerintah sudah berencana menarik utang baru senilai Rp 45,9 triliun. Pinjaman ini untuk penerusan pinjaman Rp 6,9 triliun dan cicilan pokok utang luar negeri senilai Rp 58,4 triliun, sehingga pembiayaan luar negeri netto sebesar negatif Rp 19,4 triliun.

Utang memang tak bisa lepas dari perekonomian suatu negara. Sumber dana dari luar kerap dibutuhkan, khususnya untuk proyek fisik. Dalam kondisi ekonomi global yang labil saat ini, semua negara berlomba memperkuat cadangan fiskal. Oleh karenanya, penarikan dana dari luar negeri cukup beralasan.

Negara besar seperti AS pun punya utang besar. Bahkan, pada September 2012, utang AS mencapai 16,4 triliun dolar AS. Itu merupakan jumlah utang tertinggi sepanjang sejarah Negeri Paman Sam. Masalah utang menjadi perhatian seluruh negara di dunia. Mereka tak ingin ekonomi negaranya bernasib seperti Yunani dan Spanyol yang kolaps karena utang.

Apakah Indonesia bisa bebas dari utang? Berat, bahkan nyaris tak mungkin. Ketika memutuskan mengambil utang baru, pemerintah masih mencicil utang lama. Perhatian berikutnya bukan pada penghapusan utang, tapi menjaga rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB). Indonesia berada pada rasio 24 persen.

Berdasarkan data di laman The Economist, rasio utang Indonesia terhadap PDB sebesar 24,7 persen, terendah di antara negara ASEAN. Ini bukan berarti pemerintah berpuas diri. Paradigma utang harus berubah dari memperkecil rasio menuju menekan nominal. Utang lama harus segera tuntas dan utang baru haram bertambah.

Upaya itu akan sia-sia jika tak dibarengi dengan pengawasan dalam pemanfaatan utang. Dana pinjaman ini harus benar-benar terasa manfaatnya bagi perekonomian domestik. Tujuan utamanya adalah kesejahteraan masyarakat. Mereka yang memanfaatkan utang untuk kepentingan pribadi atau golongan pantas dihukum mati.

29 August, 2012

Pohon Soekarno dan Gerakan Reboisasi


Soekarno mendapat kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji pada 1955. Seperti halnya jamaah yang lain, Soekarno pun melaksanakan berbagai tahapan ibadah haji di Tanah Suci. Tak ada keistimewaan yang didapat Soekarno meski menyandang status sebagai presiden dan tokoh paling berpengaruh di Gerakan Nonblok kala itu.

Soekarno juga ikut merasakan panasnya Padang Arafah ketika melaksanakan wukuf sebagai salah satu syarat sahnya ibadah haji. Panasnya Padang Arafah membuat Soekarno berpikir. Sebagai seorang insinyur, dia memutar otak untuk mencari jalan keluar agar jamaah haji tak terpanggang terik matahari ketika wukuf.

Seusai melaksanakan ibadah haji, Soekarno bertemu dengan pejabat Kerajaan Arab Saudi. Pada kesempatan inilah Soekarno menyampaikan gagasan-gagasannya tentang ibadah haji. Dia mengusulkan agar ada penghijauan di Padang Arafah. Soekarno meminta kerajaan agar mengubah padang tandus itu dengan pepohonan.

Soekarno tak memberi omong kosong. Setelah kembali ke Tanah Air, Soekarno mengirim pohon khas Indonesia yang tahan hidup di padang tandus, namanya pohon mindi, ada pula yang menyebutnya pohon imba. Gayung bersambut. Kerajaan Arab Saudi melakukan penghijauan di Padang Arafah sebagai penghargaan atas gagasan Soekarno.

Pemerintah Indonesia juga mengirimkan ahli tanaman ke Arab Saudi untuk me muluskan rencana itu. Kerajaan Arab Saudi juga tak main-main, mereka menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung. Di dalam tanah tempat tumbuhnya pohon mindi ini tersimpan pipa sehingga setiap batang pohon bisa tersiram air.

Beberapa tahun kemudian, mimpi Soekarno terwujud. Padang Arafah perlahan mulai hijau. Saat ini, pohon-pohon itu masih tumbuh di Padang Arafah dan melindungi jutaan jamaah haji ketika wukuf. Jamaah haji bisa terkena denda atau dam jika mematahkan ranting pohon itu. Sebagai bentuk penghargaan, Kerajaan Arab Saudi menamai pohon tersebut dengan "Pohon Soekarno".

Soekarno juga menerapkan gagasangagasannya soal lingkungan di negeri sendiri. Banyak kebijakan pemerintah pada masa Presiden Soekarno yang bertujuan untuk melindungi lingkungan. Salah satunya pencanangan Pekan Penghijauan Nasional pada 17 Desember 1961 di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Inilah cikal bakal program reboisasi hutan dan penghijauan. Soekarno tak ingin hutanhutan yang ada di Indonesia menjadi padang tandus seperti di Arab Saudi. Sayangnya, setelah pucuk pimpinan negeri ini berganti, kebijakan Soekarno ini makin tak jelas. Justru, terjadi deforestasi besar-besaran. Pohon-pohon digergaji, tanah digali.

Bedasarkan data Bank Dunia, deforestasi setelah 1970-an mencapai 300 ribu hektare per tahun dan menjadi 600 ribu hektare per tahun pada 1981. Jumlah itu meningkat menjadi satu juta hektare per tahun pada 1990. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 1990 menunjukkan, deforestasi selama 1980-1990 seluas 0,9- 1,3 juta hektare per tahun.

Bencana pun menyusul. Banjir bandang dan longsor beberapa kali terjadi di berbagai daerah. Beberapa di antaranya justru terjadi di daerah yang dikelilingi hutan. Penebangan pohon besar-besaran ternyata menuai bencana. Pemerintah mulai kalang kabut. Reboisasi yang dulu dicanangkan Soekarno kembali didengungkan, hanya istilahnya saja yang berubah jadi rehabilitasi lahan.

Namun, upaya itu belum terlihat membuahkan hasil. Awal Oktober 2010, banjir bandang melanda Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Korban tewas nyaris 100 orang dan puluhan orang hilang. Ratusan warga terpaksa harus tinggal di pengungsian karena tempat tinggalnya tersapu banjir.

Musibah banjir bandang terjadi di Kota Padang, Sumatra Barat, pada Selasa (24/7) sekitar pukul 18.30 WIB. Meski tidak ada korban tewas, delapan warga sempat hilang tersapu banjir bandang. Bukan hanya rumah warga yang rusak, tetapi beberapa jembatan di Padang juga rusak akibat tersapu banjir bandang.

Ironi. Itulah kata paling tepat yang bisa menggambarkan musibah banjir bandang di Indonesia. Bayangkan saja, Papua yang dulu lebat dengan pepohonan kini mulai menjadi lokasi banjir bandang. Padang juga dulu dikelilingi oleh pepohonan, namun kini tak berdaya menahan arus banjir yang datang seketika itu.

Kebijakan pemerintah tentang lingkungan belum terlihat hasilnya. Gerakan menanam pohon yang selama ini gencar digembargemborkan tak terasa dampaknya di daerah. Itu wajar saja karena penanaman pohon selama ini hanya menjadi kegiatan seremonial semata atau jadi salah satu kegiatan corporate social responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan besar.

Percuma saja jika menanam pohon hanya di halaman kantor, lapangan parkir, di pinggir jalan protokol, dan di pekarangan sekolah. Daerah yang lebih membutuhkan pohon justru berada di lahan kritis yang ada di gunung-gunung yang dulunya menjadi rumah bagi berbagai jenis pohon.

Harapan itu tetap ada, apalagi kalau melihat dana yang diterima pemerintah untuk upaya penghijauan ini. Salah satunya kerja sama Norwegia dan Indonesia untuk mendukung upaya Indonesia mengurangi emisi gas rumah kaca dari penebangan dan degradasi hutan serta tanah gambut. Norwegia mendukung upaya ini melalui bantuan dana sampai dengan satu miliar dolar AS berdasarkan kinerja Indonesia.

Dana dari Norwegia ini datang tak lama setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2009 menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi karbon dioksida Indonesia hingga 26 persen pada 2020. Komitmen ini merupakan komitmen terbesar yang pernah diutarakan oleh negara berkembang. Indonesia telah menetapkan target absolut dan Norwegia ingin membantu upaya Pemerintah Indonesia mencapai komitmen tersebut.

Indonesia kini juga terlibat dalam skema Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), yakni mekanisme untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan. Pengurangan emisi atau deforestasi yang dihindari diperhitungkan sebagai kredit.

Jumlah kredit karbon dalam waktu tertentu dapat dijual di pasar karbon. Kredit yang dapat diserahkan ke lembaga pendanaan yang dibentuk untuk menyediakan kompensasi finansial bagi negara-negara peserta yang melakukan konservasi hutan. REDD menjadi bentuk insentif finansial untuk pelestarian hutan.

Indonesia kini terus berusaha menekan emisi karbon dan mencegah deforestasi. Angka deforestasi di negeri ini memang terus menurun, tapi entah kapan bisa berhenti. Jika dulu Soekarno sanggup menghijaukan padang tandus di Arab Saudi, kini Indonesia justru berjuang menanam kembali pohonpohon yang dulu ditebang.

Photo courtesy: Forest & Kim Starr

04 August, 2011

Agriculture: The Forgotten One


In the modern State of Indonesia, that is quite old, the Indonesian people still covered a wide range of issues. The Indonesia's economic crisis in 1998 is peak impotence of the country's problems. The economic crisis led President Soeharto resigned before his term ended.

The end of Soeharto-era and is not accompanied by the end of the economic crisis. The leadership changes and changes in economic policies cannot help people rise from poverty. Rising prices and falling purchasing power make people choke and forced them to return to the use of wood for cooking and tubers for food. Conditions are not very different with the food shortages in the 1950s, when President Sukarno was in power. This shows that this nation has no significant progress after 55 years.

Indonesia is rich in natural resources with enormous potential of it. On the basis of those considerations, it seems reasonable, if the people proud with Indonesia as an agrarian country. However, it was not accompanied by the desire of the pride wealth to develop and exploit it. This was proved when the agricultural sector is no longer seen as the economic arm of the country. The rulers of this country more temptation to stimulate industrialization and mechanization, which was helpless when the wave of economic crisis.

The agricultural sector has proven to be a sector that remains standing strong when the economic crisis engulfing the nation. Agriculture is not negatively affected from the shock of economic crisis. In fact, when the conglomerates in the capital fell into bankruptcy and debt, some farmers in different regions of increased incomes and improved living standards. The fall of the rupiah against the dollar could increase the selling value of commodities produced by farmers. This makes the agricultural sector still exist and persist.

Agricultural economic system has proven to increase employment. When other companies went bankrupt and dismissed its employees in connection with the economic crisis, the agricultural sector remains strong and simply ogled many to be the place for business. Employment in the agricultural sector is open to all, the experience is different. The agricultural sector can absorb skilled manpower and unskilled. Production processes in the agricultural sector can take place in towns and villages in order to reduce the urbanization, which is now growing. According to the Ministry of agriculture (2002) of the agro-industrial sector can increase employment more than 350,432 peoples.

Agricultural development no longer a priority. Agricultural functions in the economic system of Indonesia has inexistence. Since 1985, the development paradigm has shifted into high-tech industry-driven development. In fact, based industrialization development strategy will trap the nation from dependence on imported raw materials. In other words, the industry is highly vulnerable to the volatility of the rupiah against the dollar advanced and can deplete foreign exchange reserves, so it will not be helpless when faced with economic crisis.

Ironically, once Indonesia is self-sufficient in rice in 1984, it has become one of the largest in the country of the rice importers. Indonesia had made a sale of aircraft production PTDI are compensation with Thailand. Aircraft is exchanged with the rice, an act that should not be done by an agrarian country, such as Indonesia.

The Government in Soeharto-era seems satisfied with the award to the achievements of FAO Rice self-sufficiency in 1984. Direction of development made the leap to sophisticated high-tech industry. The lack of attention to the agricultural sector is the beginning of a calamity to the nation. Farmlands converted into industrial land will give rise to food production declined. The population and the availability increased demand for food in abundance. Rice imports a final exit. (Photo courtesy of UN File/P Sudhakaran).

25 March, 2011

Memprediksi Tsunami Menggunakan Ethologi

Gelombang air laut mahadahsyat menghantam wilayah timur laut Jepang pada Jumat (11/3). Gempa sebesar 8,9 Skala Richter memicu gelombang tsunami, membuat air laut seolah tumpah ke darat dan menyeret apa pun yang berada di hadapannya. Siaran stasiun televisi Jepang NHK memperlihatkan air laut menerjang segala yang ada di pelabuhan, lahan pertanian, jalan, hingga gedung-gedung di perkotaan. Tsunami itu menjadi salah satu bencana terdahsyat di Negeri Sakura.

Meski banyak versi tentang jumlah korban jiwa, namun media-media di Jepang menyebut korban jiwa bisa mencapai ribuan orang, belum termasuk korban yang masih tertimbun. Bantuan kemanusiaan dan regu penyelemat dari berbagai dunia, termasuk Indonesia, berduyun-duyun masuk ke Jepang. Bencana di Jepang ini membuat seluruh dunia ikut waspada. Setidaknya ada 20 negara yang memberlakukan ‘waspada tsunami’ di wilayahnya masing-masing. Beberapa jam setelah gempa di Jepang, tsunami juga ikut mampir di Papua, menyeret rumah-rumah nelayan.

Di tengah keprihatinan atas bencana yang merenggut korban nyawa dan materi yang amat banyak, muncul kekhawatiran lain. Gempa juga telah menyebabkan kebocoran atap bangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi yang terletak tidak jauh dari Kota Sendai atau sekira 250 kilometer di utara Tokyo. Semua warga yang tinggal dalam radius 20 kilometer dari PLTN langsung diungsikan untuk mencegah dampak radiasi. Kondisi itu membuat sejumlah pihak khawatir bencana radiasi nuklir di Chernobyl, Uni Sovyet, pada 1986 silam kembali terulang di Jepang.

Jepang dianggap sebagai satu-satunya negara yang memiliki mitigasi dan langkah antisipasi paling baik dalam menghadapi berbagai bencana. Jepang merupakan negara kepulauan yang berada dalam wilayah bencana. Kondisi itu membuat Jepang memiliki infrastruktur dan teknologi yang baik dalam mengadapi bencana, khususnya gempa. Hampir seluruh gedung di Jepang berteknologi tahan gempa, alat deteksi tsunami dan gempa ada di mana, dan tak terhitung lagi ilmuwan yang mempelajari gempa.

Kerusakan dan korban jiwa yang dialami Jepang akibat tsunami membuktikan bahwa kesiapan dalam menghadapi bencana sangat penting untuk dimiliki negara mana pun. Salah satu kunci untuk meningkatkan kesiapan dan mengurangi dampak kehancuran akibat tsunami adalah sistem peringatan dini (early warning system). Semakin cepat peringatan tsunami didapat, semakin minim jumlah korban jiwa dan kerusakan yang ditimbulkan. Sistem peringatan dini sebagain besar menggunakan teknologi canggih yang berbiaya tinggi, ada salah satu bagian alatnya yang harus ditempatkan di dasar lautan.

Salah satu alternatif untuk memprediksi datangnya tsunami adalah ethologi, yakni ilmu yang mempelajari gerak-gerik atau tingkah laku hewan di lingkungan alam dan di lingkungan lain dimana hewan tersebut bisa hidup. Penggunaan ethologi untuk memprediksi gempa dan tsunami belum diterima secara luas oleh para peneliti. Sebagian menganggap tingkah laku hewan tidak memiliki hubungan dengan datangnya gempa dan tsunami, bahkan ada yang menganggap tingkah laku abnormal hewan sebelum tsunami hanyalah anekdot.

Meski demikian, setiap kejadian tsunami dan gempa dilaporkan selalu didahului atau diiringi oleh perilaku abnormal hewan. Situs berita Kompas.com pada Sabtu (12/3) memberitakan, bencana tsunami yang melanda Jepang dan perairan Samudera Pasifik ditengarai telah menyebabkan ikan bermigrasi sampai di Samudera Indonesia atau dikenal dengan Samudra Hindia. Sehari pascatsunami di Jepang, para nelayan pantai selatan Kulon Progo justru panen ikan. Beberapa nelayan yang melaut mendapatkan tangkapan yang cukup banyak.

Sekitar 80 persen gempa di Jepang memang terjadi di tengah lautan. Hal ini menyebabkan terjadinya perilaku abnormal pada ikan. Spesies ikan yang biasa hidup di lautan dingin yang dalam dapat tertangkap oleh nelayan di perairan yang dangkal dan hangat beberapa saat sebelum terjadinya gempa. Ikan memiliki sensitivitas tinggi terhadap variasi medan elektrik yang terjadi sebelum gempa. Sensitivitas seperti ini memungkinkan beberapa hewan untuk dapat mendeteksi gas radon yang dikeluarkan dari tanah sebelum gempa.

Tingkah laku hewan sebelum terjadi gempa dan tsunami juga tercatat dalam beberapa bencana besar. Salah satunya ketika tsunami yang menghantam Aceh, Thailand, dan Srilangka pada 2004 silam. Kantor berita Reuters melaporkan, Taman Nasional Yala di Srilangka telah dipenuhi oleh mayat manusia, namun tidak satu pun ditemukan bangkai-bangkai hewan. Taman Nasional Yala merupakan rumah bagi 200 ekor gajah asia, leopard, rusa, dan hewan liar lainnya.

Gelombang tsunami yang menerjang Srilangka sama sekali tidak membunuh hewan-hewan yang terdapat di daerah tersebut. Seorang staf di Taman Nasional Yala mengatakan bahwa tidak ada gajah yang mati, bahkan tidak ditemukan bangkai hewan kecil seperti kelinci sekalipun, hewan memiliki indera keenam dan dapat merasakan gejala suatu bencana.

Di pantai Khao Lak, Thailand, gajah-gajah tunggang yang sedang dinaiki turis terlihat gelisah dan berlarian ke arah bukit. Beberapa saat sebelum datangnya gelombang, gajah ini terus menerus bersuara dan gelisah (agitated). Mereka ini kembali tenang dan tidak bersuara setelah berada di bukit. Setelah itu, muncul gelombang tsunami yang menghantam pantai sejauh satu kilometer. Gajah-gajah yang ditunggangi turis itu pun selamat dan tidak tersentuh gelombang. Gajah ini telah menyelamatkan sejumlah turis asing dari gelombag tsunami.

Ensiklopedia bebas Wikipedia menjelaskan, istilah ethologi diturunkan dari bahasa Yunani. Pertama kali istilah ini diperkenalkan dalam bahasa Inggris William Morton Wheeler pada 1902. Ilmuwan lainnya, John Stuart Mill, menganjurkan ethologi agar dikembangkan menjadi cabang sains baru. Etologi dapat dibedakan dengan psikologi komparatif yang juga mempelajari perilaku hewan, namun menguraikan studinya sebagai cabang psikologi.

Hewan memiliki tingkah laku yang terlihat dan saling berkaitan secara individual maupun kolektif. Berbagai macam tingkah laku hewan merupakan cara bagi hewan tersebut untuk berinteraksi secara dinamik dengan lingkungannya. Tingkah laku yang dimiliki oleh berbagai macam hewan telah melahirkan bidang ilmu tersendiri bernama ethologi. Kepercayaan yang mengatakan bahwa hewan dapat merasakan gejala alam dan gempa telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Pada tahun 373 SM, sejarawan mencatat hewan seperti tikus, ular, dan musang telah meninggalkan kota Helis di Yunani beberapa hari sebelum terjadinya gempa yang menghancurkan kota tersebut.

Para ethologis mempelajari fisiologi perilaku dengan metode analisa dan morfologi perilaku dengan metode komparatif. Konrad Z. Lorenz dianggap sebagai Bapak Ethologi Modern. Lorenz merumuskan bahwa perilaku hewan, adaptasi fisiknya, merupakan bagian dari usahanya untuk hidup. Dalam ethologi diakui bahwa perilaku hewan timbul berdasarkan motivasi, hal ini menunjukan bahwa hewan mempunyai emosi. Ethologi erat kaitannya dengan bidang ilmu lain seperti geologi karena ada beberapa perilaku hewan yang dapat menunjukan akan terjadinya suatu gempa atau tsunami.

Meskipun demikian, beberapa ahli geologi di Amerika masih bersikap skeptis dalam melihat fenomena tingkah laku hewan sebelum terjadinya tsunami. Andi Michael, seorang ahli dari United States Geological Survey (USGS) menganggap bahwa tingkah laku abnormal hewan yang terlihat sebelum terjadinya tsunami ini hanyalah sebuah anekdot. USGS menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara perilaku hewan dengan terjadinya gempa. Pada tahun 1970-an, USGS pernah melakukan penelitian tentang prediksi gempa melalui pengamatan perilaku hewan, namun tidak ada hasil nyata dari penelitian.

David Jay Brown dalam artikelnya yang berjudul Etho-Geological Forecasting menulis, fenomena terjadinya perilaku yang tidak lazim pada hewan sebelum terjadinya gempa dapat dijelaskan dengan berbagai teori, di antaranya teori untrasound pergerakan bumi, teori gas sebelum gempa, dan teori medan magnet bumi. Sebagian besar hewan memiliki kapasitas pendengaran yang melebihi manusia, contohnya kucing dan anjing bisa mendengar getaran suara hingga 60.000 Hertz, sedangkan manusia hanya hingga 20.000 Hertz. Hewan dapat memberikan reaksi terhadap pancaran suara ultra (ultrasound) getaran microseisms dari patahan batuan.

Beberapa peneliti memperkirakan hewan-hewan dapat merespon gas radon atau gas lain yang dikeluarkan dari dalam bumi sebelum gempa. Diketahui pula bahwa dalam kondisi geologi tertentu, konsentrasi gas seperti metana di dalam tanah dapat berubah sedikit. Gas juga kadang-kadang dilepaskan dari tanah selama gempa bumi. Sebagian besar hewan memiliki indera penciuman yang tajam dibanding manusia terhadap beberapa jenis gas. Hewan-hewan sering dilaporkan bertingkah ketakutan sebelum letusan gunung berapi.

Hidung anjing sekitar satu juta kali lebih sensitif daripada manusia, dan beberapa serangga, seperti ngengat (silk moth) memiliki kemampuan luar biasa penginderaan luar biasa. Sebagai contoh, pada saat kawin, ngengat betina menghasilkan kurang dari sepersejuta gram molekul sex attractant yang disebarkan oleh angin, lalu sinyal ajakan kawin (mating signal) itu bisa ditangkap dengan antena sensitif ngegat jantan tujuh mil jauhnya. Sebuah molekul saja sudah cukup menarik ngengat jantan untuk mengejar betina.

Fluktuasi medan magnet bumi dapat menyebabkan perilaku abnormal pada hewan. Beberapa hewan memiliki sensitivitas terhadap variasi medan magnet bumi yang terjadi di dekat pusat gempa (epicenter). Perubahan medan magnet bumi dapat mempengaruhi proses migrasi burung-burung dan menganggu kemampuan navigasi ikan. Selain itu, ion-ion yang bermuatan dapat keluar sebelum terjadinya gempa, hal ini menyebabkan partikel ion yang bermuatan listrik dapat merubah pemancar gelombang syaraf (neurotransmitter) dalam otak hewan.

Dari beberapa teori itu menunjukkan bahwa sistem peringatan dini dengan menggunakan ethologi perlu dipertimbangkan meski memerlukan pengembangan dan penelitian lebih lanjut. Cina telah menjadi pioner dengan mendirikan stasiun percobaan untuk memprediksi terjadinya gempa bumi menggunakan observasi biologi di Provinsi Xingtai pada tahun 1968. Jika sistem ini telah teruji dan berkembang dengan baik, maka sistem ini dapat menghemat biaya dalam membeli berbagai instrumen dan peralatan untuk memprediksi gempa. Indonesia kaya akan fauna, sehingga bisa turut mengembangkan prediksi tsunami memakai ethologi ini.